Showing posts with label Kebiasaan / Habit. Show all posts
Showing posts with label Kebiasaan / Habit. Show all posts

It’s Break Time!!

Seorang perempuan dengan 1 anak mengeluh kepada saya: “Saya sudah tidak kuat. Saya kesulitan membagi waktu antara pekerjaan saya dan anak saya.” Tantangan dan tuntutan hidup memang dapat menjadi ditaktor-ditaktor dalam hidup kita. Pekerjaan kita menentut sejumlah waktu, energi, dan perhatian kita. Begitu pula dengan sekolah, kuliah, keluarga, pacar, suami/istri, administrasi pajak, administrasi bank, perawatan mobil, hobi, dan teman/sahabat-sahabat kita, semuanya ini meminta waktu, energi, dan perhatian kita.

Beberapa hal dalam hidup kita, mungkin dapat kita efisienkan dengan mengatur ulang hidup kita. Dengan memprioritaskan beberapa hal, dan menempatkan mereka pada urutan yang baik akan membawa perubahan besar bagi hidup kita. Akan tetapi ada saatnya di mana kita memerlukan waktu break.

Break = buang-buang waktu

Prinsip waktu adalah uang sering kali menghantui sebagian orang. Mungkin tidak semua orang merasa menganut kalimat ini. Akan tetapi dalam banyak kasus yang saya temui, kata “uang” dapat diganti menjadi “kesempatan”, “tanggung jawab”, “peluang yang tidak dapat kembali” dan lain sebagainya. Prinsipnya sama! Kita takut menggunakan waktu kita untuk beristirahat. Kita menganggap bahwa istirahat merupakan sebuah aktivitas yang tidak terlalu berguna, karena itu biasanya kita tidur ketika kecapaian atau tidak sengaja terlelap di depan televisi yang masih menyala, atau terlelap dengan koran atau majalah yang terbuka di atas kepala atau dada kita.

Anehnya, kita mengerti bahwa mobil yang kita miliki memerlukan perawatan. Kita juga mengerti bahwa laptop, IPad, dan Handphone kita memerlukan pengisian batrai kembali. Namun kita menganggap bahwa istirahat bukan merupakan sebuah aktivitas yang produktif.

Berpikir optimal bukan maksimal

Jika Anda seorang nelayan, maka Anda akan mengerti bahwa malam hingga pagi hari sebelum matahari terbit, merupakan waktu terbaik untuk melaut. Para nelayan mengerti bahwa tidak akan ada banyak ikan yang dapat ditangkap jika mereka melaut di siang hari, seberapapun kerasnya mereka berusaha.

Inilah yang disebut dengan optimal. Mengeluarkan tenaga seefektif mungkin namun mencapai hasil semaksimal mungkin. Jika Anda berpikir maksimal, maka Anda akan cenderung merasa bersalah ketika diam dan beristirahat. Jika Anda berpikir optimal, maka Anda akan memahami bahwa ada waktu-waktu dan kondisi-kondisi yang lebih baik jika Anda gunakan untuk beristirahat dan menyegarkan kembali hati, pikiran, dan tubuh Anda.

Halangan managemen istirahat

Ada setidaknya 5 penghalang bagi kebanyakan orang untuk dapat dengan leluasa memberikan dirinya istirahat yang baik, yaitu:

  1. Perasaan kawatir.
  2. Perasaan tidak aman.
  3. Perasaan selalu kurang.
  4. Tidak adanya target yang jelas.
  5. Pengaturan agenda kerja yang tidak realistis.

How to…

Setidaknya ada 5 langkah yang dapat membantu Anda untuk dapat beristirahat dan menyegarkan kembali hati, pikiran, dan tubuh Anda:

  1. Milikilah target atau tujuan yang jelas dan realistis.
  2. Rencanakan agenda kerja Anda dalam mencapai tujuan Anda dengan mempertimbangkan kemampuan Anda dengan baik.
  3. Belajar bersyukur.
  4. Belajar berpikir optimal bukan maksimal.
  5. Beranikan diri Anda untuk beristirahat dan benar-benar menikmati waktu-waktu istirahat Anda.

"Nilai Luhur"? Itu Cuma Ada Di Museum

Saya baru saja menonton film "The Tale Of Despereaux" yang mengisahkan tentang seekor tikus kecil(hampir saja mengetik "seorang tikus") yang melawan budaya tikus-tikus kecil yang lain. Sementara tikus-tikus kecil yang lain menganggap rasa takut adalah dorongan terbesar untuk hidup, Despereaux Tilling (tikus kecil yang menjadi tokoh utama) menganggap dorongan terbesar dalam hidup adalah keberanian, kebenaran, dan kehormatan. Saya pribadi menyukai film yang mempunyai elemen-elemen kerajaan, kasta-kasta, petualangan, fantasi, dan perang pedang. Jadi otomatis saya sangat menyukai film ini.

Namun setelah menonton film ini, saya berpikir bahwa tidak banyak film-film jaman sekarang yang mendengung-dengungkan nilai-nilai moral seperti harapan, kehormatan, kebenaran, integritas, dan kepahlawan, sebagai nilai-nilai luhur yang harus dimiliki semua orang. Bahkan penyebutan "nilai-nilai luhur"pun terdengar asing di telinga orang jaman sekarang.

BE JOYFUL!!!

Macetnya jalan raya, suara yang terlalu ramai dan berisik di sekitar rumah, bau tidak sedap yang menyengat, panas yang membakar kulit dan juga hati, membuat banyak orang tidak lagi mengenal apa yang disebut hari-hari bahagia atau hari-hari yang menyenangkan. Banyak orang melihat hari-hari menyenangkan itu terjadi pada kehidupan orang lain atau pada kehidupannya sendiri di masa lalu. Misalnya, banyak orang yang sudah berkeluarga mengatakan hari-hari menyenangkan itu adalah ketika mereka masih lajang. Beberapa orang yang lain mengatakan hari-hari menyenangkan itu akan ada ketika ia dapat memiliki rumah yang mewah, penghasilan yang lebih besar, istri atau suami yang lebih cantik atau gagah, anak-anak yang lebih pintar, dan banyak lagi lainnya yang notabene mereka lihat terjadi di dalam hidup orang lain.


Segala hal yang saya sebutkan di atas (dan tentu saja masih banyak lagi. Anda bisa menambahkannya sendiri...) memang sangat mungkin membuat kita bertanya: "Apakah saya mempunyai hari-hari menyenangkan?" Jika Anda dan saya termasuk orang-orang yang merasakan hal ini, mungkin kita lupa bahwa hari-hari menyenangkan harus diciptakan dan bukan sekedar dinantikan. Kita tidak dapat berpangku tangan menantikan hari-hari itu terjadi dalam hidup kita. Kita harus secara aktif menciptakannya.


RAHASIA OTAK DAN HATI
Beberapa orang mengatakan bahwa ketika seseorang lahir ke dalam dunia, maka hidupnya seperti selembar kertas putih yang kosong. Bentuk dan suasana kehidupan seseorang, bergantung pada bagaimana dirinya, orang-orang lain di sekitarnya, serta situasi yang dialami mengisinya dengan warna-warna dan gambar-gambar tertentu. Ada ajaran-ajaran agama tertentu yang menolak atau mendukung hal ini. Saya tidak sedang membahas hal tersebut, akan tetapi konsep ini berlaku dalam jangka waktu yang lebih singkat, yaitu kehidupan hari lepas hari.

Otak kita memang diciptakan Tuhan untuk mempunyai kapasitas penyimpanan yang hampir tidak terbatas. Sebagian besar informasi yang berupa fakta-fakta atau kata-kata yang kita masukkan ke dalam otak kita akan disimpan selamanya. Itulah cara kerjanya. Otak kita memproses segala informasi yang didapatkan dari buku-buku yang kita baca, gambar-gambar dari TV, kalimat-kalimat yang kita dengar ketika kita sedang berkomunikasi, dan menyimpannya ke dalam hard disc abadi yang jauh lebih canggih daripada hardisk manapun di dunia.

Berbeda dengan hati kita. Walaupun memiliki fungsi yang sama sebagai tempat penyimpanan, akan tetapi hati kita tidak menyimpan informasi berupa fakta, gambar, atau kalimat. Hati kita diciptakan Tuhan untuk menyimpan informasi-informasi berupa makna, perasaan, dan suasana. Itu sebabnya kita lebih mudah mengingat hal-hal yang memiliki kesan tertentu bagi hati kita dan melupakan hal-hal lain yang tidak berkesan. Hati kita lebih selektif dalam menyimpan informasi. Ia menyerap jauh lebih cepat dari otak kita, tetapi hanya menyimpan hal-hal yang menurutnya perlu untuk disimpan.

Sebetulnya hati kitalah yang memberikan makna di dalam hidup. Ada pepatah yang mengatakan "kotoran kucing terasa seperti coklat ketika kita jatuh cinta." Tentu saja pepatah ini tidak dapat dimaknai secara harafiah. Yang hendak disampaikan oleh pepatah tersebut adalah bahwa ketika hati kita sedang dipenuhi dengan cinta, maka hal buruk pun dapat kita maknai dengan bahagia. Inilah yang sering dilupakan oleh banyak orang. Hari-hari bahagia dihasilkan dari hati kita yang dipenuhi dengan suka cita, kegembiraan, dan ucapan syukur.


KEBIASAAN YANG MENGHANCURKAN
Banyak orang  tidak menyadari hal tersebut dan hal pertama yang mereka lakukan setelah bangun pagi adalah mengisi hati mereka dengan warna-warna yang muram. Beberapa orang mewarnai hatinya dengan keluhan: "Hhh...Hanya hari biasa yang menjemukan." Bahkan, beberapa orang mewarnai hatinya dengan kutukan: "Aduh hari ini hari Senin. Hari yang melelahkan dan menyebalkan." Sebagian besar dari keluhan kita biasanya beralasan. Kita mengeluhkan kejenuhan kita karena hampir tidak ada aktivitas baru yang dapat direncanakan untuk hari itu. Kita merasa kelelahan karena ada begitu banyak tugas yang harus kita kerjakan. Akan tetapi, sebenarnya hati kitalah yang menentukan apakah hari ini kita akan melalui segala tantangan dan aktivitas kita dengan bahagia atau dengan kelesuan.


KESEMPATAN TERBAIK
Kesempatan terbaik untuk membantu hati kita mewarnai hari-hari dengan suka cita adalah ketika kita bangun di pagi hari. Pada waktu tidur panjang (di malam hari), hati kita membuang sebagian besar dari apa yang dirasakannya sepanjang hari. Semakin relax istirahat kita, semakin banyak hal yang dibuangnya. Ini berarti setiap kali bangun dari tidur panjang, kita akan mempunyai hati yang menyerupai kertas putih yang hampir kosong. Ada sedikit sisa-sisa warna dari pengalaman kemarin, akan tetapi masih banyak ruang putih yang kosong. Ini adalah saat terbaik bagi kita untuk mengisi hati kita dengan warna-warna yang akan membantu kita membuat hari yang "biasa" menjadi hari-hari yang menyenangkan. Mungkin tidak sempurna, tetapi masih merupakan hari-hari yang menyenangkan.

Beberapa hal yang dapat kita lakukan pada waktu bangun pagi adalah:
  • Berdoa dan mengucap syukur pada Tuhan.
  • Menarik nafas panjang dalam-dalam dan tersenyum.
  • Tersenyum dan mencium orang-orang yang kita kasihi.
  • Mengucapkan selamat pagi pada keluarga, pembantu, matahari, burung, bunga, awan, dan lain-lain.
  • Membiasakan diri melihat bahwa hari ini adalah hari baru yang Tuhan ciptakan bagi kita.
Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk membiasakan hati kita memaknai segala sesuatu menjadi hal yang membahagiakan hidup kita. Memang akan ada saat-saat dimana kita harus berduka, dan tidak menipu diri sendiri. Akan ada saat-saat dimana kita merasa lelah dalam berjuang. Akan tetapi, selain saat-saat itu muncul dalam kehidupan kita, mari kita menjadikan sebagian besar hari-hari yang kita hidupi menjadi hari-hari yang membahagiakan. Ingatlah hal ini: "Ada saat untuk menangis, namun ada saat untuk tertawa. Ada saatnya untuk bersedih, namun ada saatnya untuk bergembira." Jangan biarkan hidup Anda dikuasai oleh kemurungan dan kelesuan, melainkan latihlah hati Anda untuk memaknai hari-hari Anda dengan positif.

A new day begins with our smile. If joy is the first thing we fill into our heart, then the more likely we can be grateful through out the day.

Kekuatan Sebuah Nama

Saat ini kita sering menganggap remeh sebuah nama atau julukan. Banyak orang menganggap bahwa nama hanyalah sebuah kata panggilan yang menunjukkan pada identitas pribadi kita. Tapi tahukah kita bahwa sebenarnya nama itu memiliki arti yang penting dalam kehidupan seorang manusia?

Beberapa suku yang hidup di jaman dahulu seringkali memberikan sebuah nama berdasarkan kejadian yang ada berdekatan pada saat anak itu dilahirkan. Beberapa suku yang lain memberikan nama pada anak-anak mereka berdasarkan harapan yang diramalkan dalam hidup anak itu. Beberapa suku yang lain memberikan nama berdasarkan tata letak bintang.

Di jaman ini, masih banyak orang yang mencarikan nama bagi anak-anaknya dengan mencari arti yang indah. Di kesempatan yang lain, kadang-kadang para pasangan muda menyebut pasangannya dengan sebutan-sebutan sayang yang khusus. Hal ini sangat baik. Tapi masih banyakkah yang memegang arti dari nama atau julukan yang diberikan padanya atau pada orang lain dengan sungguh-sungguh? Seiring berjalannya waktu, arti dari nama atau julukan itu dilupakan; dan semuanya hanya sekedar menjadi sebuah kata sapaan.

Banyak orang melupakan bahwa sebenarnya julukan atau nama itu mengandung kekuatan relasional kepada kita. Hal ini biasanya kita rasakan terhadap orang-orang yang mempunyai relasi khusus dengan kita. Pada waktu pertama kali pacaran, biasanya banyak orang yang jika mendengar nama pasangannya saja merasa hatinya langsung berbunga-bunga. Banyak orang pasangan muda yang ketika sedang lelah, lalu mendengar anak mereka yang masih kecil mengatakan: "papa" menjadi bangkit dan mempunyai semangat baru. Di sisi lain, banyak juga orang yang ketika mendengar nama dari orang yang dibencinya tiba-tiba menjadi sangat marah. Sering kali nama memberikan kita dampak relasional.

Pengaruh relasional ini mungkin tidak terlalu kita rasakan dengan orang-orang yang tidak mempunyai relasi khusus dengan kita. Akan tetapi beberapa julukan atau nick name mempunyai pengaruh motivasional yang kuat terhadap suasana hati kita. Beberapa orang merasa dibangkitkan semangatnya bila mendengar julukan atau status cerdas dikaitkan dengan dirinya, seperti dalam kalimat: "kamu memang anak yang cerdas." Beberapa orang yang lain merasa dirinya begitu berharga ketika mendengar panggilan "sayang" ditujukan pada dirinya, seperti: "Terima kasih sayang." Di sisi lain beberapa orang merasa sakit luar biasa ketika julukan "gemuk", "pemalas", "sok tahu", "tidak bisa apa-apa" dan lain sebagainya, ditujukan bagi dirinya.

Sepasang suami-istri dapat mulai merasa jauh jika panggilan "sayang" tidak lagi terdengar di dalam komunikasi mereka sehari-hari. Seorang anak dapat menjadi anak yang minder atau bahkan pemberontak dan pemarah jika seumur hidupnya tidak pernah mendengar ibu atau ayahnya mengatakan: "kamu anak yang papa / mama sayangi." Di sisi yang lain seorang anak yang merasa tidak berharga dapat dibangkitkan semangat hidupnya ketika mendengar: "Sebetulnya kamu anak yang cerdas."

Nama atau julukan yang kita kenakan kepada orang lain dapat memberikan pengaruh relasional dan pengaruh motivasional kepada orang lain dan diri kita sendiri. Bila dipelihara dengan baik, panggilan sayang yang unik yang kita sebutkan bagi orang-orang yang kita kasihi dapat menjadi kekuatan terbesar mereka di saat mereka lemah dan membutuhkan penghiburan. Nama dan julukan atau status yang kita berikan kepada orang lain dapat menghancurkan atau menghidupkan orang tersebut. Karena itu marilah kita membiasakan diri untuk memberikan nama atau julukan yang menguatkan, membangkitkan semangat, dan menjadi harapan bagi orang yang bersangkutan.

Bukankah indah jika suatu saat kita dapat menghibur seseorang dengan berkata: "Tetap berjuang teman. Ingat! Kamu dulu selalu disebut sebagai si pantang menyerah!" Dan bukankah merupakan hal yang indah jika suatu saat ketika kita sedang putus asa, seseorang mengatakan kalimat ini kepada kita: "Bertahanlah sayang. Ingat! Kamu menjuluki aku sebagai comforter (=penghibur). Aku akan selalu ada di sisimu, menghibur dan menguatkanmu."

Mulailah belajar untuk memberikan nama yang dapat menguatkan orang lain. Dan pada saatnya nanti, entah itu Anda atau orang yang bersangkutan, akan merasakan betapa indahnya kekuatan sebuah nama.

KESETIAAN

Jaman ini sering memperbandingkan atau bahkan mempertentangkan kesetiaan dengan kesempatan. Di jaman yang menuntut kita untuk bergerak dengan cepat ini, kesetiaan dianggap sebagai kelambanan. Kesetiaan tidak lagi menjadi nilai luhur yang didamba-dambakan orang. Kesetiaan telah menjadi sebuah sifat yang kuno dan jarang dilirik orang.

Saya mengenal seorang kepala keluarga yang dianugerahi Tuhan kesempatan untuk dapat bekerja dengan jejaring atau network yang luar biasa luas. Dia begitu bersemangat bekerja, karena memang dia menyukai untuk bertemu dengan orang-orang yang baru. Akan tetapi keluasan network yang ia miliki menuntutnya untuk menjaga hubungan baik dengan para koneksinya tersebut. Tidak jarang ia harus memakai weekend untuk menjaga hubungan baik dengan para koneksinya. Ketika keluarganya mencoba untuk menarik perhatiannya agar mendapatkan prioritas waktunya, ia menginginkan agar istri dan anak-anaknya mengerti bahwa apa yang ia lakukan adalah menangkap kesempatan-kesempatan yang Tuhan berikan agar keluarga ini bertambah kokoh secara finansial.

Saya sendiri pernah mengalami dilema antara kesetiaan dan kesempatan ini. Pada saat saya bimbang harus memilih antara setia pada pekerjaan yang baru saja saya rintis dan kesempatan untuk pindah ke bidang lain, banyak orang mengatakan agar saya harus mengambil kesempatan itu. Namun saya sadar bahwa pada akhirnya kesetiaan yang sejati akan tidak akan membuat harapan dan jerih payah saya sia-sia.

Ada perkataan seorang yang sangat bijak di masa lalu berbunyi:

"Terus meneruslah mengetuk, maka pintu akan dibukakan. Terus meneruslah mencari, maka kamu akan menemukan."

Kita perlu mengetahui bahwa kesetiaan tidak pernah bertentangan dengan kesempatan. Bahkan sebenarnya kesetiaan akan membawa kita pada kesempatan-kesempatan yang teruji dan kepastian bahwa kerja keras kita tidak akan pernah sia-sia. Bagaimana ini dapat terjadi? Kita perlu mengetahui ciri-ciri kesetiaan yang sejati dan bukan kesetiaan yang sembarangan atau ditunggangi kemalasan. Minimal ada 4 ciri kesetiaan yang sejati:
  1. Bermula dari pengenalan diri
    Kesetiaan yang sejati selalu bermula dari pengenalan akan kelemahan dan kelebihan diri sendiri. Seseorang yang mengaku setia dalam mengerjakan sesuatu, namun tidak mengenali potensinya, bisa jadi hanya seseorang yang membuang-buang kesempatan yang ada. Sebaliknya seseorang mengaku setia dalam mengerjakan sesuatu, namun tidak mengenali resiko yang mengancamnya, bisa jadi hanya merupakan seseorang yang malas dan tidak mau keluar dari zona nyaman.

    Kesetiaan yang sejati selalu memaksa kita untuk mengenali potensi dan ancaman yang ada di dalam diri kita terlebih dahulu. Dengan demikian kita baru dapat mengevaluasi potensi dan ancaman yang ada di setiap persimpangan atau kesempatan yang muncul di depan kita. Kesetiaan yang sembarangan sangat beresiko menjerumuskan kita kepada hal-hal yang tidak kita kehendaki. Akan tetapi kesetiaan sejati yang bermula dari pengenalan diri yang baik, akan memperkokoh jalan kita di depan.

  2. Berfokus pada tujuan
    Kesetiaan yang sejati tidak pernah berarti hanya tinggal di tempat dan tidak melakukan apa-apa. Kesetiaan sejati justru menjaga seseorang agar tetap mengejar tujuan yang telah ditetapkannya. Seseorang tidak dapat mengatakan bahwa ia setia, jika ia tidak mempunyai tujuan. Kesetiaan tanpa tujuan berarti tinggal diam di zona nyaman dan tidak berbuat apa-apa.

  3. Membangun sesama
    Kesetian sejati juga membuat kita menjadi semakin sadar akan kondisi di sekitar kita. Orang yang terlalu sering berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, atau dari masalah yang satu ke masalah yang lain, atau dari pekerjaan yang satu ke pekerjaan yang lain, akan mempunyai pengetahuan yang relatif dangkal akan relasi atau rantai sebab akibat dari hal yang satu ke hal yang lain; dan pengetahuan yang dangkal ini menyebabkan seseorang untuk mengambil keputusan secara gegabah dan beresiko sangat besar untuk merugikan orang lain.

    Kesetiaan yang sejati akan membuat kita bertahan sedikit lebih lama, mengamati lebih teliti, berpikir lebih matang, dan mengambil keputusan dengan lebih hati-hati. Kesetiaan yang sejati akan menolong kita terhindar dari bahaya-bahaya di balik kesempatan-kesempatan yang muncul di depan kita. Selain itu kesetiaan sejati akan mendorong kita agar tiap keputusan kita juga dapat menjadi berkat dan membangun orang-orang di sekitar kita.
  4. Membuat kita dapat makin bersyukur
    Salah satu keunggulan kesetiaan yang sejati adalah kemampuannya untuk membuat kita lebih mudah bersyukur. Hal ini disebabkan karena kesetiaan sejati tidak pernah lepas dari menyerahkan kekawatiran dan ketidakmampuan kita kepada Tuhan yang maha kuasa. Seseorang yang mengenali kelemahan dan kekuatannya sendiri dengan baik akan memahami bahwa walaupun mampu melakukan banyak hal, manusia merupakan mahluk yang lemah dan terbatas. Pengetahuan, daya analisa, dan tenaga kita yang terbatas membuat kita mustahil untuk dapat mengetahui bahwa jalan yang kita tempuh adalah jalan yang terbaik. Hanya Tuhan yang maha tahu dan maha bijaklah yang mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Karena itu kesetiaan sejati tidak akan pernah dapat dilepaskan dari penyerahan total diri kita kepada kehendak Tuhan yang maha kuasa. Dengan demikian kita akan selalu bersyukur karena hidup kita aman berada di tangan Yang Kuasa.
Mari saya berikan sebuah contoh: di atas saya menceritakan tentang seorang kepala keluarga yang sedang bergumul antara kesempatan-kesempatan yang ditawarkan dari koneksi-koneksinya dengan tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga terhadap istri dan anak-anaknya. Mari kita menggunakan 4 ciri kesetiaan sejati untuk menelaah kasus ini.

  1. Pengenalan diri
    Kita harus menyadari bahwa baik pekerjaan dan keluarga memegang peranan yang penting dalam hidup orang ini. pemeliharaan hubungan dengan rekan-rekan kerjanya akan membawa keuntungan pada pekerjaannya dan dengan demikian juga menguntungkan secara finansial bagi keluarganya. Akan tetapi tanpa kehadiran keluarganya, maka orang ini akan kehilangan tujuan dan semangat yang menjadi dasar dalam bekerja. Sekarang mari kita lihat tujuan yang ditetapkan orang ini.
  2. Fokus pada tujuan
    Hampir semua orang yang telah berkeluarga mempunyai satu tujuan utama yang sama dalam bekerja, yaitu memberi nafkah atau kemapanan finansial keluarganya. Beberapa kelompok orang yang telah mapan menambah tujuannya dengan menyenangkan dirinya dengan cara membeli barang-barang ataupun berekreasi. Beberap kelompok orang yang lain menambah tujuannya dengan berbagi atau menolong orang-orang yang membutuhkan. Apapun tujuan tambahan orang itu, yang pasti tujuan utamanya adalah memberi kemapanan finansial bagi keluarganya. Artinya ia bekerja untuk membahagiakan dan menjamin masa depan istri dan anak-anaknya. Sekarang mari kita lihat ciri ketiga dari kesetiaan yang sejati.
  3. Membangun sesama
    Kesetiaan yang sejati tidak akan mengorbankan orang lain demi kepentingan atau ambisi pribadinya. Sekarang mari kita telaah kemungkinan-kemungkinannya. Bila pekerjaan orang itu berkembang, maka orang-orang yang bekerja sama dengan orang itu juga akan mendapatkan keuntungan. Bukan hanya itu, keluarganyapun akan mendapatkan keuntungan secara finansial, walaupun mungkin bukan kebahagiaan yang diinginkan istri dan anak-anaknya (karena yang lebih diinginkan anak dan istrinya adalah waktunya). Pilihan yang lain, jika orang itu mengutamakan keluarganya, maka perusahaannya tidak akan mendapatkan keuntungan sebesar jika ia memilih untuk mengorbankan waktu bagi keluarganya. Bukan hanya itu, keluarganya akan mendapatkan waktu yang mereka inginkan dan dengan demikian memberikan kebahagian juga kepada sang suami. Akan tetapi timbul masalah. Bagaimana mungkin ia dapat menjamin bahwa pengalokasian waktu bagi keluarganya itu tidak akan membawa perusahaannya pada kehancuran? Di sinilah kita memerlukan ciri yang keempat.
  4. Lebih bersyukur
    Banyak orang melupakan kuasa dan kebijaksanaan Tuhan dalam mengatur dan menjaga hidup manusia. Memang tidak mungkin bagi kita untuk dapat menjamin keberhasilan atau keamanan pilihan kita 100%. Karena itu kita perlu menyerahkan kekawatiran dan keterbatasan kita kepada Tuhan yang maha kuasa. Undang dan ijinkan agar Tuhan yang maha bijak turut campur dalam memelihara keluarga dan usaha kita.
Kesimpulannya: sang kepala keluarga tersebut akan membagi waktunya antara pekerjaan dan keluarganya, namun lebih mengutamakan waktu-waktu khusus bagi keluarganya. Dengan demikian, ia telah menjadi seorang pekerja yang setia pada kemajuan perusahaan, menjadi seorang kepala keluarga yang setia pada kebahagiaan keluarganya, dan seorang manusia yang mampu bergantung pada Tuhannya sambil semakin lebih dapat mengucap syukur atas perlindungan TuhanNya.

Kesetiaan tidak seharusnya menjadi barang kuno yang dikalahkan dengan segala kesempatan dan desakan dunia ini. Kesetiaan sejati akan membuat kita dapat makin mengenal diri kita, mengenal orang-orang di sekitar kita, dan mengenal Tuhan yang maha kuasa dengan lebih baik. Mari kita menjadikan kesetiaan sebagai bagian dari hidup kita sehari-hari.

Perjalanan Hidup: The Good and The Bad

Saya adalah tipe orang yang secara natural berusaha memikirkan segala sesuatunya, mencermati segala sesuatunya, dan menganalisa segala kemungkinan yang dapat saya pikirkan sebelum memutuskan untuk mengambil sebuah langkah. Dalam banyak hal, saya merupakan tipe orang yang tidak mau menerima hal-hal yang tidak menyenangkan atau buruk dalam bentuk apapun. Berkebalikan dengan saya, ayah saya merupakan seorang pengambil kesempatan sejati. Ia tidak takut akan kerugian, selama hal itu dipandang masih memungkinkan untuk mendapatkan keuntungan di kemudian hari. Bagi ayah saya, tantangan dan resiko yang bersifat sementara selalu diperlukan sebagai pijakan untuk melangkah atau bahkan melompat maju.

Ada beberapa reaksi dari manusia ketika menanggapi sebuah resiko:
  1. Resiko dipandang sebagai suatu hal menakutkan dan jika terlanjur dialami, sebaiknya cepat-cepat dilupakan.
  2. Resiko dipandang sebagai batu lompatan; sebuah penderitaan sementara yang mendahului kemajuan.
  3. Resiko dipandang sebagai suatu hal yang netral; bergantung pada bagaimana kita mempersepsi resiko tersebut pada saat itu.
Ada sebuah bangsa kuno yang mempunyai kitab kebijaksanaan. Di dalam kitab itu dikatakan: "Ajarkanlah kepada anak cucumu segala perjalanan hidup bapa-bapanya. Supaya angkatan berikutnya mengenal apa yang benar dan apa yang buruk. Dengan demikian mereka tidak akan melupakan apa yang apa yang telah terjadi di belakang mereka, tetapi selalu mentaati apa yang benar." (dibahasakan ulang).

Orang-orang bijak dalam bangsa ini mengetahui bahwa kadang-kadang kita tidak dapat menghindari hal-hal yang buruk dalam kehidupan kita. Walaupun tidak semua hal yang buruk patut dipandang sebagai kesempatan, akan tetapi terkadang ada hal-hal buruk yang dapat kita kenang sebagai peringatan agar kita tidak melakukan kesalahan yang sama.

Kita harus belajar untuk mengenang hal-hal buruk dalam perjalanan hidup kita dan menjadikannya sebagai batu peringatan agar kita tidak melakukan kesalahan yang sama lagi. Saya mengenal seorang laki-laki yang pernah divonis menderita penyakit jantung yang parah karena kebiasaannya merokok. Setelah melewati proses pengobatan yang tidak menyenangkan dan tidak murah, kesehatannya menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Akan tetapi, beberapa waktu kemudian, saya mendapati ia kembali merokok, seperti yang ia biasa lakukan.

Laki-laki ini tidak belajar untuk mengenang hal buruk yang dialaminya dengan benar. Ia hanya memandang bahwa dirinya luput dari kematian akibat merokok merupakan kesempatan agar ia dapat tetap hidup. Akan tetapi ia tetap melakukan kesalahan yang sama.

Setiap orang sebaiknya mengenang hal-hal buruk dalam perjalanan hidupnya dan menjadikannya batu peringatan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Di samping itu setiap orang sebaiknya juga mengenang hal-hal baik dalam perjalanan hidupnya agar dapat membantunya untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas semua berkat-berkat yang telah dikaruniakan kepada kita selama ini.

Dalam perjalanan hidup ini selalu terdapat hal yang baik dan hal yang buruk. Hindarilah hal-hal yang buruk sedapat mungkin dan kejarlah hal-hal yang baik agar kita dapat senantiasa bersyukur pada Tuhan. Akan tetapi bila hal buruk tersebut telah terlanjur terjadi, jadikanlah hal itu sebagai batu peringatan agar kita dapat menjalani hidup kita dengan lebih baik.

Membentuk Kebiasaan Baik (Bagian 4)

SADARI BAGAIMANA POLA TINDAK KITA
Pola tindakan kita terbentuk dari refleks-refleks yang bersumber dari pola pikir dan pola rasa kita. Kita mungkin dapat dengan mudah mengubah perilaku sementara kita, yang biasanya kita lakukan untuk menciptakan citra diri tertentu di depan orang lain. Akan tetapi refleks-refleks yang kita lakukan ketika kita sedang dalam keadaan normal (tidak terlalu tertekan dan tidak terlalu senang) dan dalam keadaan cukup tertekan atau sangat senang merupakan pola tindak kita yang sulit diubah.

Tubuh kita telah diciptakan sedemikian rupa oleh Tuhan sehingga memerlukan waktu untuk mempelajari sebuah pola tertentu. Akan tetapi hal ini sebenarnya juga membawa keuntungan tertentu. Begitu tubuh kita telah terbiasa dengan pola yang baru tersebut, maka tubuh kita akan “menikmati” pola-pola tersebut.

Mari saya berikan sebuah contoh. Seseorang yang tidak terbiasa untuk berolah raga secara rutin akan mendapati bahwa berolah raga secara rutin merupakan sebuah aktivitas yang sangat melelahkan. Walaupun pikiran dan hatinya telah menetapkan diri untuk berolah raga secara rutin demi kesehatan fisiknya, namun tubuhnya tidak terbiasa untuk menerima tekanan semacam itu tiap hari. Akan tetapi setelah jangka waktu kurang lebih 40 hari atau 4 bulan, (jika orang tersebut tidak mengalami kelemahan fisik apapun) maka tubuhnya akan mulai menikmati hasil yang diberikan dari memaksa dirinya untuk berolah raga secara rutin. Ia bahkan akan merasakan bahwa tubuhnya MEMBUTUHKAN olah raga secara rutin.

Hal yang sama terjadi dalam pola-pola tindakan kita yang lain. Diperlukan waktu untuk membentuk pola pikir kita. Diperlukan waktu yang lebih lama untuk membentuk pola rasa kita agar terbiasa dengan pola pikir kita. Diperlukan waktu yang lebih lama lagi untuk membentuk pola-pola tindakan lama kita, menjadi pola-pola tindakan yang baru.

Banyak orang gagal dalam membentuk kebiasaan yang baik, karena menyangka bahwa pola-pola tindakannya dapat diubah pada saat yang sama ketika ia merubah pola pikir dan atau pola rasanya. Diperlukan kesabaran, ketekunan, dukungan dari orang-orang di sekitar, dan harapan yang tidak pernah putus bahwa usaha yang telah dilakukan tidak akan sia-sia jika orang tersebut tidak menyerah.

Mengubah pola tindak kita yang telah menjadi refleks selama bertahun-tahun tidaklah semudah membalik telapak tangan. Diperlukan usaha yang gigih, tekad yang kuat, dan dukungan dari orang-orang di sekitar untuk perlahan-lahan merubah pola pikir, kemudian pola rasa, baru kemudian pola tindakan kita.

Ubahlah Hidup Anda
Perjalanan hidup kita merupakan serangkaian hasil dari keputusan-keputusan yang kita buat dalam hidup kita sehari-hari. Ingatlah bahwa sebagian besar keputusan kita didasarkan pada pola pikir, pola rasa, dan pola tindakan kita. Jika kita mempertahankan kebiasaan buruk mengatur hidup kita, maka ia akan menjauhkan kita dari masa depan yang lebih baik, kepuasan hidup yang sejati, dan akan merugikan bukan hanya diri kita, melainkan orang di sekitar kita juga.

Ubahlah kebiasaan berpikir, merasa, dan bertindak dari yang kurang baik menjadi lebih baik sekarang juga! Seperti kata pepatah: “Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Jika kita menabur kebiasaan yang baik, maka kita akan menuai kesuksesan sejati di hari esok. BERESPONLAH DENGAN BENAR WALAUPUN SITUASI DAN ORANG DI SEKITAR KITA BERTINDAK TIDAK BENAR.

Membentuk Kebiasaan Baik (Bagian 3)

SADARI BAGAIMANA POLA RASA KITA
Banyak orang gagal dalam membentuk sebuah kebiasaan baik karena MERASA bahwa: “hal itu berat”; “mengubah kebiasaan yang sudah puluhan tahun ini adalah hal yang mustahil”; “saya sudah mencobanya berulang-kali, namun tetap gagal. Saya rasa ini adalah usaha yang sia-sia.”  Halangan terbesar bagi seseorang untuk berubah biasanya terletak pada POLA PERASAANNYA.

Perlu kita sadari bahwa perasaan kita bekerja sesuai dengan pola pikir kita atau lebih tepatnya sesuai dengan bagaimana BIASANYA kita berpikir. Membentuk sebuah kebiasan baik, terlebih jika mengubahnya dari kebiasaan yang buruk, berarti dengan sengaja mengintervensi cara kerja pikiran kita yang lama dan memaksanya untuk berpikir dengan cara yang baru dan lebih baik.
Hal ini biasanya membutuhkan waktu yang relatif cepat. Hal yang diperlukan adalah menemukan cara yang efektif untuk melakukan intervensi. Beberapa cara yang biasanya efektif untuk mengintervensi sebuah pola pikir lama antara lain:
  1. Mengajaknya berpikir mengenai dampak negatif yang sangat serius dari pola pikir yang lama.
  2. Mengajaknya untuk berpikir jangka panjang dan meliha akibat dari pola pikir yang lama.
  3. Mengajaknya untuk menata ulang prioritas hidupnya sehingga ia harus menata ulang pola pikirnya.
Hal-hal seperti ini terbukti cukup efektif untuk membuat seorang yang mempunyai kebiasaan buruk seperti perokok, peminum, pelaku seks bebas, untuk mengintervensi pola pikirnya yang lama dan membuat pola pikir yang baru untuk lepas dari kebiasaan buruknya.

Namun banyak orang melupakan bahwa perasaan kita mempunyai pola yang jauh lebih sulit untuk diintervensi atau ditembus daripada pola pikir kita. Perasaan kita tidak dapat dengan sendirinya berubah. Perasaan kita selalu bekerja sebagaimana BIASANYA pola pikir kita bekerja. Diperlukan waktu yang lebih lama agar perasaan kita mengenakan pola yang sama dengan pola pikir kita.

Mari kita bayangkan seseorang yang mempunyai pola pikir “semuanya harus jelas dan aman”. Biasanya orang seperti ini akan cenderung tidak berani melangkah ketika ada kesempatan kerja baru yang walaupun berpotensi memberikan hasil yang lebih, namun juga mempunyai resiko yang sangat besar. Jika orang ini berusaha untuk mengintervensi pola pikir lamanya dengan berpikir: “aku harus memberanikan diri mengambil kesempatan ini demi keluargaku”, maka perasaannya yang belum terbiasa dengan pola pikirnya yang lama akan dengan segera mengatakan: “JANGAN! Tunggu sampai ada kesempatan yang betul-betul aman. Jika salah pilih, justru seluruh keluargamu akan jadi hancur berantakan.” Jika konflik ini terus dipertahankan dan tidak diselesaikan maka biasanya orang tersebut hanya akan mengambil keputusan yang nekat.

Membiasakan perasaan kita agar berkerja sesuai dengan pola pikir kita yang baru memerlukan waktu; dan di sinilah kebanyakan orang gagal. Diperlukan ketekunan dan keuletan untuk terus mempertahankan pola pikir yang baru sambil perlahan-lahan memberikan latihan-latihan kecil kepada perasaan kita untuk berubah. Membentuk sebuah kebiasaan baik diperlukan latihan dengan hal-hal yang kecil.

Jika Anda ingin menghentikan kebiasaan buruk Anda dan mengubahnya dengan kebiasaan yang baik, cari dan mintalah teman Anda untuk menemani dan menguatkan tekad Anda tiap kali perasaan Anda mencoba memakai pola perasaan yang lama. Ingatlah bahwa diperlukan waktu agar pola pikir Anda yang baru dapat menguasai pola perasaan Anda sepenuhnya.

Membentuk Kebiasaan Baik (Bagian 2)

Pola pikir: Aku harus jadi yang terdepan
Salah satu pelajaran yang saya dapatkan ketika kecil adalah: bercita-citalah setinggi langit. Pola pikir seperti ini akan memacu kita agar menjadi seseorang yang ulet, tidak menyerah dengan keadaan dan kesulitan yang ada, dan tanggap dalam mengambil tiap kesempatan yang ada di depan kita. Ini adalah hal yang sangat baik. Namun kita harus menyadari bahwa berpegang terlalu erat pada pola pikir seperti ini juga dapat membawa kerugian bagi kita.

Orang-orang yang terlalu erat memegang pola pikir seperti ini akan cenderung mengalami beberapa kerugian seperti: selalu merasa kurang, tidak dapat berhenti bekerja, sulit dapat benar-benar menikmati hasil kerja kerasnya sendiri, merasa “kalah” atau bahkan tidak berharga bila dalam periode waktu tertentu tidak dapat menghasilkan sesuatu atau tidak dapat mengalahkan kompetitornya.

Pola pikir: Aku harus jadi terkenal
Dalam dunia usaha kita tahu bahwa network atau jaringan memegang peran yang cukup besar dalam kesuksesan usaha kita. Karena itu ada beberapa orang yang telah dididik sejak kecil untuk mencari teman, referensi, rekan kerja, dan kenalan sebanyak dan seluas mungkin. Pola pikir ini akan memacu kita untuk aktif dalam memulai sebuah relasi dan dengan demikian kita akan secara otomatis belajar teknik-teknik sederhana untuk mempengaruhi orang lain. Ini adalah hal yang sangat baik.

Namun orang-orang yang memakai pola pikir seperti ini di dalam segala hal akan segera menemukan bahwa ada beberapa kerugian yang dapat ditimbulkan. Orang-orang seperti ini akan cenderung: membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain dan meletakkan hampir semua kepercayaan dirinya hanya pada pendapat orang lain tentang dirinya. Orang seperti ini akan cenderung menjadi haus akan pujian dan penghargaan sehingga memaksa dirinya untuk mendapatkan pujian tersebut walaupun dengan harga yang terlalu mahal baginya.

Pola pikir: Segalanya harus jelas dan pasti, dan aman
Ada sebuah pepatah Jawa yang mengatakan bahwa kalau ingin mengenal orang lain, segalanya harus jelas “bibit, bobot, dan bebetnya”. Artinya kita harus mengetahui dengan sangat jelas mengenai segala-galanya tentang orang tersebut. Dalam kehidupan ada beberapa orang yang mempunyai prinsip: “Jika aku tidak mengetahui bahwa SEGALA SESUATUNYA jelas dan aman, maka aku tidak akan melangkah.” Pola pikir seperti ini bagus dalam membuat kita menjadi orang yang kritis, berpikir secara sistematis, selalu bertanya dan tidak mudah dirayu atau dimanipulasi oleh orang lain atau keadaan. Namun dalam beberapa hal, penggunaan yang terlalu ekstrim dari pola pikir seperti ini akan membawa kerugian yang cukup besar.

Kita tahu bahwa dalam kenyataan hidup sehari-hari, tidak segala-galanya dapat kita jamin kepastian dan keamanannya. Karena itu orang-orang yang menerapkan pola pikir seperti ini di dalam segala situasi akan cenderung: lambat dalam mengambil kesempatan; lambat dalam mempelajari hal-hal baru; lambat dalam mengembangkan usaha, relasi, atau bahkan kualitas hidupnya.

Pola pikir: Segalanya harus aman dan damai
Ada sebuah ungkapan yang mengatakan: “ makan atau tidak makan yang penting kumpul.” Banyak orang yang menghindari konflik yang bersifat personal. Banyak orang melakukan apapun demi menjaga ketenangan dan kedamaian di tempat di mana dia tinggal atau bekerja. Ini adalah pola pikir yang baik dan akan membantu agar kita dapat menjadi orang yang: setia, mampu melindungi orang lain, mampu berkorban demi orang-orang yang kita kasihi, mampu memberikan toleransi, mampu mengampuni, dan sabar ketika keadaan menjadi sangat tidak menyenangkan.

Akan tetapi jika kita menerapkan pola pikir ini dalam segala situasi, maka kita akan cenderung: tidak tegas dalam bertindak, tidak mampu mengambil keputusan terutama pada saat-saat yang sulit, lambat dalam berinisiatif, sulit mengungkapkan pendapat, dan tidak mampu memikul tanggung jawab yang besar.



Perlu kita ingat sekali lagi bahwa tidak ada SEBUAH POLA PIKIR yang sempurna. Masing-masing pola pikir memiliki kebaikan dan kekurangannya masing-masing. Membentuk sebuah kebiasaan yang baik memerlukan kewaspadaan bahwa ada sisi yang tidak baik dalam kebiasaan berpikir kita yang biasa kita pakai. Karena itu UBAHLAH POLA PIKIR KITA PADA SAAT DIMANA KITA PERLU MERUBAHNYA. Dengan demikian kita akan menjadi orang yang lebih bijaksana. Ingat! Beresponlah dengan benar walaupun orang lain dan situasi tidak benar, maka Anda akan selangkah lebih dekat kepada kesuksesan sejati.

Membentuk Kebiasaan Baik (Bagian 1)

Perjalanan hidup kita merupakan serangkaian hasil dari keputusan-keputusan yang kita buat dalam hidup kita sehari-hari. Keadaan kita saat ini merupakan serangkaian hasil dari keputusan-keputusan yang kita buat di masa lalu. Keadaan kita di masa depan merupakan hasil dari keputusan-keputusan kita di masa lalu dan saat ini. Hampir seluruh hidup kita merupakan hasil dari keputusan-keputusan yang kita buat sehari-hari.

Kebanyakan orang menyadari konsep ini, namun melupakan fakta bahwa sebagian besar dari keputusan yang kita buat merupakan hasil dari pola-pola atau kebiasaan kita dalam berpikir, merasakan, dan bereaksi.  Hal ini yang membuat banyak orang tidak mau membayar harga untuk melatih kebiasaan atau pola-pola mereka dalam berpikir, merasakan, dan bereaksi dengan baik. Banyak orang menganggap bahwa keputusan-keputusan yang baik bisa dihasilkan dalam waktu singkat lewat mempelajari beberapa teori saja. Pemikiran yang salah ini akan menyebabkan kita terus menerus mempelajari teori-teori baru dan tidak tekun dalam menjalaninya. Pemikiran yang salah ini mendorong kita untuk mengubah “tindakan-tindakan terkontrol” kita tanpa mengubah kebiasaan atau pola-pola berpikir, merasakan, dan bereaksi kita.

Kebiasaan yang buruk akan menjauhkan kita dari masa depan yang lebih baik; menjauhkan kita dari kepuasan hidup yang sejati; dan akan membawa kerugian baik bagi diri kita maupun orang lain di sekeliling kita. Diperlukan keberanian, tenaga, waktu, usaha, dan langkah-langkah yang tepat untuk mengubah kebiasaan yang buruk menjadi kebiasaan yang baik. Kami akan memberikan 3 langkah yang dapat membantu saudara untuk membentuk kebiasaan yang baik.

Sadari Bagaimana Pola Pikir Kita
Membentuk sebuah kebiasaan yang baik dimulai dari membentuk cara atau kebiasaan kita berpikir. Kebiasaan berpikir inilah yang menentukan bagaimana kita mempersepsi sebuah kejadian dan pada akhirnya akan menentukan bagaimana kita akan bertindak. Contohnya: banyak di antara orang yang dibesarkan di pulau Jawa, paling tidak di Jawa Timur dan Jawa Tengah, yang telah dididik ketika kecil mengenai “kriteria orang jahat” berdasarkan penampilan tertentu. Dengan pola pikir yang telah “dibiasakan” ini, maka ketika kita bertemu dengan orang yang mempunyai penampilan sesuai dengan “kriteria orang jahat”, kita akan dalam sekejab menjadi lebih waspada dan menjauhkan diri dari orang tersebut.

Sebuah cara berpikir akan selalu ditentukan dengan standart benar-salah atau standar baik-buruk yang kita pegang. Standar ini akan terbentuk dari nilai-nilai budaya yang ditanamkan kepada kita sejak kecil, pelajaran-pelajaran dari sekolah, ajaran-ajaran dari orang tua dan keluarga besar kita, dan hal-hal lain yang kita pelajari sendiri dari orang-orang yang kita kagumi atau panuti. Oleh karena itu terdapat banyak sekali model standar benar-salah dan baik-buruk ini.

Dalam artikel Sukses Dan Bijak berikutnya, saya akan menunujukkan empat kelompok besar model yang biasa kita temui. Perlu kita ingat bahwa tidak ada sebuah model yang terbaik. Masing-masing model mempunyai fungsinya masing-masing dalam menghadapi situas-situasi yang berlainan. Karena itu ingatlah selalu untuk mengubah pola pikir kita dalam menghadapi situasi-situasi tertentu agar kita dapat berespon dengan benar walaupun situasi dan orang lain berlaku tidak benar.