Showing posts with label Relasi Keluarga dan Suami-Istri. Show all posts
Showing posts with label Relasi Keluarga dan Suami-Istri. Show all posts

House Or Home

"Aku nggak tahan lagi!! Rumah ini menjengkelkan!!" Teriak seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun dengan sangat kesal . "Kamu pikir mama juga betah tinggal berlama-lama sama kamu? Keluar sana!!" Bentak mamanya. Kadang kala rumah (house) kita memang tidak lagi terasa sebagai tempat perlindungan yang nyaman (Home).

Saat pertama kali kita membangun rumah tangga atau menempati rumah yang baru, kita membayangkan bahwa: "rumah (house) ini akan menjadi tempat di mana aku dapat beristirahat dan merasakan cinta dari orang-orang yang aku kasihi (home)." Namun seiring berjalannya waktu dan berbagai macam konflik yang terjadi, rumah (house) itu tidak lagi menjadi tempat perisitirahatan kita (home), melainkan hanya sekedar tempat persinggahan (hotel) atau bahkan tempat perang. Beberapa orang mendapati rumah (house) mereka tidak lagi menyenangkan untuk ditinggali dan memilih untuk meninggalkannya. Beberapa orang yang lain memilih untuk sekedar "mampir" untuk makan dan tidur di malam hari. Impian indah ketika pertama kali membangun sebuah rumah (house and home) telah hilang dan rumah itu (house) hanya berfungsi sebagai tempat tinggal (house) semata.

Di dalam bahasa Inggris terdapat dua kata yang berbeda untuk menggambarkan rumah. House menggambarkan gedungnya, sedangkan home menggambarkan suasana (yang seharusnya nyaman) di rumah itu. House dibangun dari batu, semen, tiang pancang, atap genting, dan perabotan. Sedangkan home dibuat dari rasa percaya, rasa saling mencintai dan mengasihi, kemauan untuk saling mengerti dan mengampuni, serta komunikasi yang baik, namun yang terutama adalah saling mengasihi.

Home tidak dapat dibangun tanpa rasa saling mengasihi. Kita dapat mengasihi orang yang tidak terlalu kita percayai. Kita dapat mengasihi orang yang tidak memiliki komunikasi yang baik dengan kita. Tetapi kita tidak dapat mempercayai dan mengampuni orang yang tidak kita kasihi. Kasih merupakan dasar dari segala sesuatu, pilar penopang dari segala sesuatu, dan ekspresi dari segala sesuatu yang baik.



WHERE TO START
Kasih dibangun dan dimulai dari diri sendiri. Bukan orang lain. Banyak orang menggantungkan tumbuhnya benih kasihnya kepada orang lain. "Bagaimana mungkin aku mengasihi orang yang menjengkelkan seperti itu?" atau "Bagaimana mungkin aku mengasihi orang yang sudah mengkhianati aku seperti ini?" atau "Tidak mungkin aku mengasihi orang itu! Ia juga tidak peduli kepadaku." Ini adalah ekspresi orang yang menunggu orang lain untuk menunjukkan kasih atau kebaikannnya terlebih dahulu, baru mereka dapat mengasihi orang tersebut. Ini adalah kasih bersyarat yang pasif dan sebetulnya sangat menghancurkan. Coba bayangkan jika semua orang menunggu orang lain untuk mengasihi mereka, maka tidak akan ada orang pun yang mengasihi satu dengan yang lain. Semua akan saling menunggu. Jika semua orang menjadikan ketidakcocokkan dan kesalahan orang lain sebagai dasar untuk tidak mengasihi, maka tidak akan ada orang-orang yang mengasihi kita. Hukum "cinta dibalas cinta, kesalahan dibalas kebencian" ini adalah hukum yang sangat konyol.

Sebenarnya hati kitapun menyadari hal ini. Itu sebabnya kita sering membengkokkan hukum ini, terutama kepada orang yang sedang hangat-hangatnya kita kasihi. Beberapa orang menjadikan orang-orang yang kurang mampu sebagai pihak yang mendapat perlakuan khusus ini. Beberapa orang yang lain menjadikan kekasih atau pasangan yang baru saja dinikahinya sebagai orang-orang yang mendapat perlakuan khusus. Beberapa orang yang lain menilai hanya sahabat dan bahkan binatang peliharaannya yang pantas mendapatkan perlakuan khusus tersebut. Sungguh perlakuan yang egois bukan?

Ada hukum lain yang sebetulnya juga berlaku. Kita menuai apa yang kita tabur. Jika kita menabur kasih bersyarat yang pasif, maka kita akan menuai kasih bersyarat yang pasif dari orang lain juga. Jika kita sulit mengasihi orang-orang yang menjengkelkan bagi kita, maka kita juga akan tidak dikasihi oleh orang-orang yang menganggap kita menjengkelkan. Jika kita merasa pendapat dan perasaan kita yang paling benar, maka orang lain juga akan menganggap pendapat dan perasaan kita tidak mungkin benar. Jika kita sulit memaafkan orang yang bersalah kepada kita, maka kitapun juga akan sulit dimaafkan oleh orang lain yang menganggap kita bersalah. Jika semua orang menabur hukum kasih bersyarat yang pasif ini, maka tidak lama bumi ini akan terpecah menjadi kelompok-kelompok yang saling membenci.


HOW TO
Cara terbaik untuk memulai jenis kasih yang baru adalah dengan belajar mengasihi secara aktif. Semua orang, baik sengaja maupun tidak sengaja, pernah berbuat salah. Tidak ada orang yang selalu cocok satu dengan yang lainnya. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak pernah salah mengerti keadaan dan maksud orang lain. Kasih yang aktif merangkul situasi dan orang-orang seperti ini. Kasih yang aktif mencoba memahami situasi dan keadaan orang lain. Kasih yang aktif menghukum kesalahan, namun memaafkan orang-orang yang bersalah. Kasih yang aktif mencoba untuk mendengarkan, mengerti, dan tidak menghakimi orang lain. Beberapa latihan sederhana yang dapat kita lakukan untuk melatih kemampuan mengasihi secara aktif:

  1. Tanamkan prinsip tabur tuai dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Kasihilah orang lain seperti kita menginginkan orang lain mengasihi kita.
  3. Biasakan untuk mengerti orang lain sebelum menilai mereka.
  4. Marahlah jika melihat ketidakbenaran. Berikan hukuman jika terjadi kesalahan. Namun maafkan dan jangan menghakimi pribadi orang yang berbuat kesalahan.
Kasih yang aktif akan membuat house kembali menjadi home. Kasih yang aktif akan menjadi dasar, tiang penyangga, dan atap yang melindungi rumah (home) kita terhadap serangan-serangan amarah, ketidak percayaan, dan kasih pasif yang merusak.


You must love the Lord your God with all your heart, all your soul, all your mind, and all your strength.'
The second is equally important: 'Love your neighbor as yourself.' No other commandment is greater than these."

Kekuatan Sebuah Nama

Saat ini kita sering menganggap remeh sebuah nama atau julukan. Banyak orang menganggap bahwa nama hanyalah sebuah kata panggilan yang menunjukkan pada identitas pribadi kita. Tapi tahukah kita bahwa sebenarnya nama itu memiliki arti yang penting dalam kehidupan seorang manusia?

Beberapa suku yang hidup di jaman dahulu seringkali memberikan sebuah nama berdasarkan kejadian yang ada berdekatan pada saat anak itu dilahirkan. Beberapa suku yang lain memberikan nama pada anak-anak mereka berdasarkan harapan yang diramalkan dalam hidup anak itu. Beberapa suku yang lain memberikan nama berdasarkan tata letak bintang.

Di jaman ini, masih banyak orang yang mencarikan nama bagi anak-anaknya dengan mencari arti yang indah. Di kesempatan yang lain, kadang-kadang para pasangan muda menyebut pasangannya dengan sebutan-sebutan sayang yang khusus. Hal ini sangat baik. Tapi masih banyakkah yang memegang arti dari nama atau julukan yang diberikan padanya atau pada orang lain dengan sungguh-sungguh? Seiring berjalannya waktu, arti dari nama atau julukan itu dilupakan; dan semuanya hanya sekedar menjadi sebuah kata sapaan.

Banyak orang melupakan bahwa sebenarnya julukan atau nama itu mengandung kekuatan relasional kepada kita. Hal ini biasanya kita rasakan terhadap orang-orang yang mempunyai relasi khusus dengan kita. Pada waktu pertama kali pacaran, biasanya banyak orang yang jika mendengar nama pasangannya saja merasa hatinya langsung berbunga-bunga. Banyak orang pasangan muda yang ketika sedang lelah, lalu mendengar anak mereka yang masih kecil mengatakan: "papa" menjadi bangkit dan mempunyai semangat baru. Di sisi lain, banyak juga orang yang ketika mendengar nama dari orang yang dibencinya tiba-tiba menjadi sangat marah. Sering kali nama memberikan kita dampak relasional.

Pengaruh relasional ini mungkin tidak terlalu kita rasakan dengan orang-orang yang tidak mempunyai relasi khusus dengan kita. Akan tetapi beberapa julukan atau nick name mempunyai pengaruh motivasional yang kuat terhadap suasana hati kita. Beberapa orang merasa dibangkitkan semangatnya bila mendengar julukan atau status cerdas dikaitkan dengan dirinya, seperti dalam kalimat: "kamu memang anak yang cerdas." Beberapa orang yang lain merasa dirinya begitu berharga ketika mendengar panggilan "sayang" ditujukan pada dirinya, seperti: "Terima kasih sayang." Di sisi lain beberapa orang merasa sakit luar biasa ketika julukan "gemuk", "pemalas", "sok tahu", "tidak bisa apa-apa" dan lain sebagainya, ditujukan bagi dirinya.

Sepasang suami-istri dapat mulai merasa jauh jika panggilan "sayang" tidak lagi terdengar di dalam komunikasi mereka sehari-hari. Seorang anak dapat menjadi anak yang minder atau bahkan pemberontak dan pemarah jika seumur hidupnya tidak pernah mendengar ibu atau ayahnya mengatakan: "kamu anak yang papa / mama sayangi." Di sisi yang lain seorang anak yang merasa tidak berharga dapat dibangkitkan semangat hidupnya ketika mendengar: "Sebetulnya kamu anak yang cerdas."

Nama atau julukan yang kita kenakan kepada orang lain dapat memberikan pengaruh relasional dan pengaruh motivasional kepada orang lain dan diri kita sendiri. Bila dipelihara dengan baik, panggilan sayang yang unik yang kita sebutkan bagi orang-orang yang kita kasihi dapat menjadi kekuatan terbesar mereka di saat mereka lemah dan membutuhkan penghiburan. Nama dan julukan atau status yang kita berikan kepada orang lain dapat menghancurkan atau menghidupkan orang tersebut. Karena itu marilah kita membiasakan diri untuk memberikan nama atau julukan yang menguatkan, membangkitkan semangat, dan menjadi harapan bagi orang yang bersangkutan.

Bukankah indah jika suatu saat kita dapat menghibur seseorang dengan berkata: "Tetap berjuang teman. Ingat! Kamu dulu selalu disebut sebagai si pantang menyerah!" Dan bukankah merupakan hal yang indah jika suatu saat ketika kita sedang putus asa, seseorang mengatakan kalimat ini kepada kita: "Bertahanlah sayang. Ingat! Kamu menjuluki aku sebagai comforter (=penghibur). Aku akan selalu ada di sisimu, menghibur dan menguatkanmu."

Mulailah belajar untuk memberikan nama yang dapat menguatkan orang lain. Dan pada saatnya nanti, entah itu Anda atau orang yang bersangkutan, akan merasakan betapa indahnya kekuatan sebuah nama.

KESETIAAN

Jaman ini sering memperbandingkan atau bahkan mempertentangkan kesetiaan dengan kesempatan. Di jaman yang menuntut kita untuk bergerak dengan cepat ini, kesetiaan dianggap sebagai kelambanan. Kesetiaan tidak lagi menjadi nilai luhur yang didamba-dambakan orang. Kesetiaan telah menjadi sebuah sifat yang kuno dan jarang dilirik orang.

Saya mengenal seorang kepala keluarga yang dianugerahi Tuhan kesempatan untuk dapat bekerja dengan jejaring atau network yang luar biasa luas. Dia begitu bersemangat bekerja, karena memang dia menyukai untuk bertemu dengan orang-orang yang baru. Akan tetapi keluasan network yang ia miliki menuntutnya untuk menjaga hubungan baik dengan para koneksinya tersebut. Tidak jarang ia harus memakai weekend untuk menjaga hubungan baik dengan para koneksinya. Ketika keluarganya mencoba untuk menarik perhatiannya agar mendapatkan prioritas waktunya, ia menginginkan agar istri dan anak-anaknya mengerti bahwa apa yang ia lakukan adalah menangkap kesempatan-kesempatan yang Tuhan berikan agar keluarga ini bertambah kokoh secara finansial.

Saya sendiri pernah mengalami dilema antara kesetiaan dan kesempatan ini. Pada saat saya bimbang harus memilih antara setia pada pekerjaan yang baru saja saya rintis dan kesempatan untuk pindah ke bidang lain, banyak orang mengatakan agar saya harus mengambil kesempatan itu. Namun saya sadar bahwa pada akhirnya kesetiaan yang sejati akan tidak akan membuat harapan dan jerih payah saya sia-sia.

Ada perkataan seorang yang sangat bijak di masa lalu berbunyi:

"Terus meneruslah mengetuk, maka pintu akan dibukakan. Terus meneruslah mencari, maka kamu akan menemukan."

Kita perlu mengetahui bahwa kesetiaan tidak pernah bertentangan dengan kesempatan. Bahkan sebenarnya kesetiaan akan membawa kita pada kesempatan-kesempatan yang teruji dan kepastian bahwa kerja keras kita tidak akan pernah sia-sia. Bagaimana ini dapat terjadi? Kita perlu mengetahui ciri-ciri kesetiaan yang sejati dan bukan kesetiaan yang sembarangan atau ditunggangi kemalasan. Minimal ada 4 ciri kesetiaan yang sejati:
  1. Bermula dari pengenalan diri
    Kesetiaan yang sejati selalu bermula dari pengenalan akan kelemahan dan kelebihan diri sendiri. Seseorang yang mengaku setia dalam mengerjakan sesuatu, namun tidak mengenali potensinya, bisa jadi hanya seseorang yang membuang-buang kesempatan yang ada. Sebaliknya seseorang mengaku setia dalam mengerjakan sesuatu, namun tidak mengenali resiko yang mengancamnya, bisa jadi hanya merupakan seseorang yang malas dan tidak mau keluar dari zona nyaman.

    Kesetiaan yang sejati selalu memaksa kita untuk mengenali potensi dan ancaman yang ada di dalam diri kita terlebih dahulu. Dengan demikian kita baru dapat mengevaluasi potensi dan ancaman yang ada di setiap persimpangan atau kesempatan yang muncul di depan kita. Kesetiaan yang sembarangan sangat beresiko menjerumuskan kita kepada hal-hal yang tidak kita kehendaki. Akan tetapi kesetiaan sejati yang bermula dari pengenalan diri yang baik, akan memperkokoh jalan kita di depan.

  2. Berfokus pada tujuan
    Kesetiaan yang sejati tidak pernah berarti hanya tinggal di tempat dan tidak melakukan apa-apa. Kesetiaan sejati justru menjaga seseorang agar tetap mengejar tujuan yang telah ditetapkannya. Seseorang tidak dapat mengatakan bahwa ia setia, jika ia tidak mempunyai tujuan. Kesetiaan tanpa tujuan berarti tinggal diam di zona nyaman dan tidak berbuat apa-apa.

  3. Membangun sesama
    Kesetian sejati juga membuat kita menjadi semakin sadar akan kondisi di sekitar kita. Orang yang terlalu sering berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, atau dari masalah yang satu ke masalah yang lain, atau dari pekerjaan yang satu ke pekerjaan yang lain, akan mempunyai pengetahuan yang relatif dangkal akan relasi atau rantai sebab akibat dari hal yang satu ke hal yang lain; dan pengetahuan yang dangkal ini menyebabkan seseorang untuk mengambil keputusan secara gegabah dan beresiko sangat besar untuk merugikan orang lain.

    Kesetiaan yang sejati akan membuat kita bertahan sedikit lebih lama, mengamati lebih teliti, berpikir lebih matang, dan mengambil keputusan dengan lebih hati-hati. Kesetiaan yang sejati akan menolong kita terhindar dari bahaya-bahaya di balik kesempatan-kesempatan yang muncul di depan kita. Selain itu kesetiaan sejati akan mendorong kita agar tiap keputusan kita juga dapat menjadi berkat dan membangun orang-orang di sekitar kita.
  4. Membuat kita dapat makin bersyukur
    Salah satu keunggulan kesetiaan yang sejati adalah kemampuannya untuk membuat kita lebih mudah bersyukur. Hal ini disebabkan karena kesetiaan sejati tidak pernah lepas dari menyerahkan kekawatiran dan ketidakmampuan kita kepada Tuhan yang maha kuasa. Seseorang yang mengenali kelemahan dan kekuatannya sendiri dengan baik akan memahami bahwa walaupun mampu melakukan banyak hal, manusia merupakan mahluk yang lemah dan terbatas. Pengetahuan, daya analisa, dan tenaga kita yang terbatas membuat kita mustahil untuk dapat mengetahui bahwa jalan yang kita tempuh adalah jalan yang terbaik. Hanya Tuhan yang maha tahu dan maha bijaklah yang mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Karena itu kesetiaan sejati tidak akan pernah dapat dilepaskan dari penyerahan total diri kita kepada kehendak Tuhan yang maha kuasa. Dengan demikian kita akan selalu bersyukur karena hidup kita aman berada di tangan Yang Kuasa.
Mari saya berikan sebuah contoh: di atas saya menceritakan tentang seorang kepala keluarga yang sedang bergumul antara kesempatan-kesempatan yang ditawarkan dari koneksi-koneksinya dengan tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga terhadap istri dan anak-anaknya. Mari kita menggunakan 4 ciri kesetiaan sejati untuk menelaah kasus ini.

  1. Pengenalan diri
    Kita harus menyadari bahwa baik pekerjaan dan keluarga memegang peranan yang penting dalam hidup orang ini. pemeliharaan hubungan dengan rekan-rekan kerjanya akan membawa keuntungan pada pekerjaannya dan dengan demikian juga menguntungkan secara finansial bagi keluarganya. Akan tetapi tanpa kehadiran keluarganya, maka orang ini akan kehilangan tujuan dan semangat yang menjadi dasar dalam bekerja. Sekarang mari kita lihat tujuan yang ditetapkan orang ini.
  2. Fokus pada tujuan
    Hampir semua orang yang telah berkeluarga mempunyai satu tujuan utama yang sama dalam bekerja, yaitu memberi nafkah atau kemapanan finansial keluarganya. Beberapa kelompok orang yang telah mapan menambah tujuannya dengan menyenangkan dirinya dengan cara membeli barang-barang ataupun berekreasi. Beberap kelompok orang yang lain menambah tujuannya dengan berbagi atau menolong orang-orang yang membutuhkan. Apapun tujuan tambahan orang itu, yang pasti tujuan utamanya adalah memberi kemapanan finansial bagi keluarganya. Artinya ia bekerja untuk membahagiakan dan menjamin masa depan istri dan anak-anaknya. Sekarang mari kita lihat ciri ketiga dari kesetiaan yang sejati.
  3. Membangun sesama
    Kesetiaan yang sejati tidak akan mengorbankan orang lain demi kepentingan atau ambisi pribadinya. Sekarang mari kita telaah kemungkinan-kemungkinannya. Bila pekerjaan orang itu berkembang, maka orang-orang yang bekerja sama dengan orang itu juga akan mendapatkan keuntungan. Bukan hanya itu, keluarganyapun akan mendapatkan keuntungan secara finansial, walaupun mungkin bukan kebahagiaan yang diinginkan istri dan anak-anaknya (karena yang lebih diinginkan anak dan istrinya adalah waktunya). Pilihan yang lain, jika orang itu mengutamakan keluarganya, maka perusahaannya tidak akan mendapatkan keuntungan sebesar jika ia memilih untuk mengorbankan waktu bagi keluarganya. Bukan hanya itu, keluarganya akan mendapatkan waktu yang mereka inginkan dan dengan demikian memberikan kebahagian juga kepada sang suami. Akan tetapi timbul masalah. Bagaimana mungkin ia dapat menjamin bahwa pengalokasian waktu bagi keluarganya itu tidak akan membawa perusahaannya pada kehancuran? Di sinilah kita memerlukan ciri yang keempat.
  4. Lebih bersyukur
    Banyak orang melupakan kuasa dan kebijaksanaan Tuhan dalam mengatur dan menjaga hidup manusia. Memang tidak mungkin bagi kita untuk dapat menjamin keberhasilan atau keamanan pilihan kita 100%. Karena itu kita perlu menyerahkan kekawatiran dan keterbatasan kita kepada Tuhan yang maha kuasa. Undang dan ijinkan agar Tuhan yang maha bijak turut campur dalam memelihara keluarga dan usaha kita.
Kesimpulannya: sang kepala keluarga tersebut akan membagi waktunya antara pekerjaan dan keluarganya, namun lebih mengutamakan waktu-waktu khusus bagi keluarganya. Dengan demikian, ia telah menjadi seorang pekerja yang setia pada kemajuan perusahaan, menjadi seorang kepala keluarga yang setia pada kebahagiaan keluarganya, dan seorang manusia yang mampu bergantung pada Tuhannya sambil semakin lebih dapat mengucap syukur atas perlindungan TuhanNya.

Kesetiaan tidak seharusnya menjadi barang kuno yang dikalahkan dengan segala kesempatan dan desakan dunia ini. Kesetiaan sejati akan membuat kita dapat makin mengenal diri kita, mengenal orang-orang di sekitar kita, dan mengenal Tuhan yang maha kuasa dengan lebih baik. Mari kita menjadikan kesetiaan sebagai bagian dari hidup kita sehari-hari.

Waktu Tenang Bersama

Di jaman ini waktu merupakan sebuah harta yang termahal. Orang dapat membeli benda-benda berharga yang lainnya. Orang dapat berusaha untuk menjaga bahkan meningkatkan kesehatan tubuhnya. Akan tetapi tidak seorangpun di dunia ini yang dapat membeli kembali waktu yang telah lewat.

Sistem kerja kita telah menyita begitu banyak waktu sehingga menyisakan hanya sedikit sekali waktu untuk diri kita, sahabat, dan terutama keluarga kita. Cobalah untuk mengingat, kapan terakhir kali Anda meluangkan waktu secara khusus dengan keluarga atau pasangan Anda? Kapan terakhir kali Anda meluangkan waktu secara khusus untuk mensyukuri, merencanakan, dan mengevaluasi kualitas hubungan Anda dengan pasangan Anda atau keluarga Anda?

Banyak orang lupa bahwa relasi adalah sesuatu yang harus terus menerus diusahakan dan dikembangkan. Relasi dapat digambarkan seperti lahan pertanian. Ada saatnya kita harus mengusahakannya dengan kerja keras. Namun ada saatnya kita dapat beristirahat sejenak dan menuai hasilnya.

Terlalu banyak orang yang menyepelekan kualitas relasi mereka dengan pasangan dan keluarga mereka. Mereka menganggap bahwa kualitas relasi mereka akan berjalan layaknya sebuah komputer. Selama ada pasokan listrik dan software yang baik maka ia akan berjalan dengan sendirinya. Mereka berpikir bahwa selama mereka dapat mensuply kebutuhan-kebutuhan fisik, seperti: uang, hadiah ulang tahun, makanan, dan hobi-hobi lain seperti menonton film, dan lain sebagianya, maka kualitas relasi itu akan baik-baik saja dengan sendirinya.

Ini adalah sebuah cara berpikir yang salah dan sangat membahayakan. Kenapa? Karena dalam banyak kasus, kasih sayang kita justru dapat menjadi boomerang yang akan berbalik dan menghantam kita, jika kita tidak mengaturnya dengan baik.  Contohnya: seorang istri dari pasangan yang baru saja menikah dan dalam kondisi finansial yang pas-pasan, memilih untuk menyimpan segala kebutuhan, keinginan, dan unek-uneknya dari suaminya. Ia tidak ingin suaminya yang telah bekerja dengan keras tersebut dibebani lagi dengan unek-uneknya yang dirasa “tidak penting”. Ini adalah suatu pengorbanan yang baik dan membutuhkan rasa kasih sayang yang luar biasa besar. Akan tetapi tidaklah baik jika ia tidak pernah menceritakannya kepada suaminya. “unek-unek” yang terpendam itu akan menjadi sebuah bom waktu yang jika tiba-tiba meledak, maka akan mengagetkan sang suami dan kemungkinan besar merusak hubungan suami istri tersebut dengan “ketidakpuasan-ketidakpuasan yang terpendam”.

Dibutuhkan waktu tenang bersama agar suami dan istri dapat benar-benar menceritakan segala sesuatu yang mereka rasakan dalam kehidupan mereka bersama dengan tenang dan terbuka. Dibutuhkan waktu tenang bersama agar suami dan istri dapat mensyukuri cinta kasih di antara mereka walaupun ada banyak ketidak idealan yang masih terjadi. Dibutuhkan sebuah waktu tenang bersama agar suami dan istri dapat dengan tabah menyadari beban yang ada di pundak masing-masing pihak, dan tetap berharap agar masa depan mereka dapat lebih baik karena mereka mengasihi satu dengan yang lainnya. Dibutuhkan waktu tenang bersama agar suami dan istri dapat keluar dari kesibukan dan tekanan hidup sehari-hari, lalu melihat seberapa sehat atau sakitnya cinta kasih di antara mereka.

Di jaman yang serba sibuk ini, masihkah Anda meluangkan waktu untuk mensyukuri dan memeriksa relasi Anda dengan pasangan dan keluarga Anda? Jangan pernah meremehkan arti sebuah waktu khusus untuk Anda memelihara relasi-relasi Anda. Layaknya sebuah tanah pertanian. Jika Anda memeliharanya dengan baik, maka Anda akan menuai hasil yang baik pula dari Tuhan.