Showing posts with label Kepemimpinan. Show all posts
Showing posts with label Kepemimpinan. Show all posts

"Nilai Luhur"? Itu Cuma Ada Di Museum

Saya baru saja menonton film "The Tale Of Despereaux" yang mengisahkan tentang seekor tikus kecil(hampir saja mengetik "seorang tikus") yang melawan budaya tikus-tikus kecil yang lain. Sementara tikus-tikus kecil yang lain menganggap rasa takut adalah dorongan terbesar untuk hidup, Despereaux Tilling (tikus kecil yang menjadi tokoh utama) menganggap dorongan terbesar dalam hidup adalah keberanian, kebenaran, dan kehormatan. Saya pribadi menyukai film yang mempunyai elemen-elemen kerajaan, kasta-kasta, petualangan, fantasi, dan perang pedang. Jadi otomatis saya sangat menyukai film ini.

Namun setelah menonton film ini, saya berpikir bahwa tidak banyak film-film jaman sekarang yang mendengung-dengungkan nilai-nilai moral seperti harapan, kehormatan, kebenaran, integritas, dan kepahlawan, sebagai nilai-nilai luhur yang harus dimiliki semua orang. Bahkan penyebutan "nilai-nilai luhur"pun terdengar asing di telinga orang jaman sekarang.

Tipe Orang "Usus Buntu"

Pernahkah Anda bertemu dengan orang-orang yang tampaknya "tidak dapat melakukan apa-apa?" Pernahkah Anda terpaksa bekerja sama dengan orang-orang yang Anda pikir hanya akan menjadi beban daripada menjadi rekan kerja yang saling menolong? Di sisi lain, pernahkah Anda mengalami situasi seperti demikian? Saya menyebut kelompok orang ini orang-orang bertipe "usus buntu".

Saya baru saja membaca sebuah artikel yang menceritakan hasil dari penelitian di Duke University Medical Center pada tahun 2007 mengenai organ yang sering kita sebut sebagai usus buntu. Artikel tersebut mengatakan bahwa " Selama ratusan tahun fungsi usus buntu masih menjadi misteri dan ahli kedokteran belum bisa mengetahui fungsi dari organ usus buntu (appendix). Bahkan beberapa ilmuwan menyebutnya sebagai 'organ sisa'."* Akan tetapi William Parker, Ph.D., asisten profesor operasi eksperimental di Duke University Medical Center, Durham, mengatakan bahwa: " Sejumlah bukti menguatkan peran usus buntu sebagai tempat di mana bakteri baik dapat hidup aman dan tidak terganggu sampai mereka dibutuhkan oleh tubuh." Bakteri-bakteri ini dibutuhkan oleh usus kita untuk membantu sistem pencernaan memproses makanan yang kita makan. Sebagai imbalannya usus menyediakan sebuah "rumah aman" dimana bakteri-bakter tersebut dapat mendapatkan makanannya.

Selama ratusan tahun manusia bertanya-tanya apa gunanya Tuhan menciptakan usus buntu? Saya merasa jika saja bukan Tuhan semesta alam yang menciptakannya maka manusia sudah akan membuangnya dari dulu. Akan tetapi karena ia diciptakan oleh Tuhan, maka kita terpaksa "memeliharanya" hingga ia menjadi benar-benar merepotkan. Begitulah biasanya orang-orang memperlakukan orang-orang bertipe "usus buntu". Mereka sering kali merasa terpaksa untuk "memeliharanya" dan kita menunggu saat-saat dimana kita bisa "membuangnya" ketika ia menjadi beban yang terlampau besar untuk mereka pikul. Di sisi lain, inilah yang kita rasakan jika kita sedang menduduki posisi orang-orang dengan tipe "usus buntu". Kita menjadi tertekan, takut berbuat salah, takut belajar dan berkembang, dan pada akhirnya menjadi semakin merendahkan diri sendiri.

Belajar dari pengalaman para peniliti di bidang kesehatan, maka seharusnya kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada sesuatupun yang diciptakan Tuhan, tidak berguna. Ia tidak pernah salah dalam menciptakan sesuatu. Selalu ada kelebihan dan fungsi khusus yang Tuhan berikan kepada tiap-tiap ciptaanNya. Begitu pula ketika ia menciptakan orang-orang bertipe "usus buntu" yang mungkin adalah saya dan Anda.

Banyak orang sering kali merasa bahwa orang-orang seperti ini tidak dapat melakukan apapun yang berguna karena mereka tidak mempunyai keelokkan yang mencolok. Mereka sering kali merasa putus asa menghadapi orang-orang seperti ini karena kita merasa mereka tidak punya fungsi yang mudah dilihat. Usus buntu jelas tidak dapat dibandingkan keelokkannya dengan mata dan rambut dan kita jelas tidak dapat melihat fungsi usus buntu senyata kita merasakan fungsi dari kekuatan otot tangan. Akan tetapi layaknya usus buntu memberikan makanan bagi bakteri yang menguntungkan tubuh kita, orang-orang dengan tipe ini sering kali bekerja di balik layar.

Saya sering sekali merasa jengkel ketika masuk ke toilet sebuah tempat umum dan mendapati toilet tersebut tidak bersih. Pengalaman-pengalaman seperti sering membuat saya bukan hanya membuat saya enggan untuk menggunakan toilet tersebut, tetapi juga enggan untuk datang ke tempat itu lagi. Di sisi lain, saya sering kali memuji (bahkan kadang mempromosikan) tempat-tempat umum yang mempunyai toilet yang sangat bersih dan nyaman. Bayangkan bagaimana kebersihan toilet dapat mempengaruhi sebuah kerja sama bisnis yang besar.

Banyak orang sering kali menganggap orang-orang seperti petugas kebersihan, pekerja kasar, satpam, supir, pembantu rumah tangga adalah orang-orang dnegan tipe "usus buntu". Di sisi lain, jika Anda dan saya termasuk dalam kelompok ini, mungkin kita akan mengalami rasa tidak berharga yang sama. Mari kita berkaca dari usus buntu yang Tuhan ciptakan dalam diri setiap manusia. Tidak ada seorang manusiapun yang tidak mempunyai kelebihan. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak dapat memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Tuhan telah menciptakan Anda dan saya untuk mencerminkan kejeniusan sang pencipta kita. Tuhan tidak pernah menciptakan sebuah rongsokan. Tuhan selalu menciptakan karya terbaikNya dan Anda dan saya adalah karya terbaikNya.

Jika Anda merasa termasuk dalam kategori orang-orang "usus buntu" ini, rubahlah pandangan Anda terhadap diri Anda sendiri. Temukan kemampuan yang Tuhan sudah berikan di dalam diri Anda. Kembangkan kemampuan itu. Jangan pernah berhenti belajar untuk mengembangkan dan menggunakan kemampuan itu untuk memberikan manfaat bagi Anda dan orang-orang di sekitar Anda. Mungkin kemampuan itu masih dalam bentuk benih. Tugas Anda adalah menemukan dan menyiraminya hingga menjadi pohon yang kokoh. Ingat bahwa kelebihan Anda tidak harus mengungguli banyak orang. Layaknya usus buntu yang kurang kita namun memberikan manfaat bagi kita, begitupun kelebihan Anda. Hal yang terpenting adalah Anda dapat memberikan manfaat bagi orang-orang dan lingkungan di sekitar Anda.

Jika Anda tidak merasa sebagai orang-orang "usus buntu" tetapi mengenal seseorang yang merasa dirinya termasuk dalam kelompok ini. Tolonglah ia merubah pandangannya mengenai dirinya sendiri dengan mulai merubah cara Anda memandangnya. Temukan potensi yang ada di dalam dirinya. Berikan pujian yang jujur mengenai hal baik apapun yang Anda temukan di dalam dirinya. Motivasi dan bantulah ia untuk mengembangkan dirinya. Pada akhirnya hadiah terbesar bagi Anda adalah melihatnya tumbuh menjadi seseorang yang lebih baik.

Tuhan tidak pernah salah dalam menciptakan Anda, saya, dan orang-orang lain. Tiap hal dalam kehidupan kita direncanakanNya untuk menunjukkan kejeniusanNya dalam merajut kehidupan manusia ciptaanNya. Temukan fungsi dan kelebihan yang ada di dalam diri kita dan orang lain. Dengan demikian kita telah memuliakan Tuhan pencipta kita.

Leading Up

Tidak setiap orang menduduki posisi sebagai pemimpin. Akan tetapi setiap orang memiliki peran sebagai pemimpin, dan kadang kala kita dihadapkan pada situasi dimana kita harus memimpin atasan kita.

Sebagian besar orang merasa segan untuk memimpin atasannya karena menganggap bahwa hal itu sama dengan memerintah. Sebagian lagi tidak merasa segan, tetapi melakukannya dengan cara yang salah sehingga menyebabkan atasan mereka tidak menyukai mereka.

Mengapa kita harus dapat memimpin atasan kita? Ada dua alasan yang penting. Pertama, tidak ada seorangpun di dunia ini yang sempurna. Setiap orang pasti membutuhkan bantuan, saran, masukan; dan itu berarti “pimpinan” dari orang lain. Kedua, jika Anda dapat memberikan bantuan, saran, dan masukan kepada atasan Anda, maka Anda akan dipandang sebagai orang yang memiliki potensi dan hal itu akan tercatat dalam prestasi pribadi Anda.

Setidaknya ada 5 hal penting yang harus Anda ingat dalam memberikan saran, masukan, atau pimpinan kepada atasan Anda.
  1. Hormati posisinya sebagai pemimpin Anda.
  2. Gunakan “bahasanya”, bukan “bahasa” Anda.
  3. Anda tidak harus memberikan saran atau masukan yang sempurna.
  4. Jangan berdebat.
  5. Ucapkan terima kasih.


Sebelum memberikan saran, masukan, koreksi, atau pimpinan kepada atasan Anda, pastikan terlebih dahulu motivasi Anda. Ingatlah bahwa mereka adalah pemimpin Anda, karena itu Anda harus tetap menghormati posisinya. Jika Anda tidak dapat menghormati pemimpin Anda, maka sebetulnya Anda sedang menciptakan pemberontakan yang akan memecah belah organisasi dan memberikan lebih banyak dampak negatif daripada positif.

Setiap orang memiliki pola bahasanya masing-masing dan cenderung menggunakan “bahasanya” sendiri serta menolak “bahasa” orang lain. Karena itu, amati apakah atasan Anda memiliki pola bahasa:
  • Argumentatif, yang cenderung blak-blakkan dan mengutamakan logika.
  • Referensial, yang cenderung lebih menerima bila masukan diberikan berdasarkan sudut pandang orang yang ia hormati atau kisah keberhasilan orang lain.
  • Harga diri, yang cenderung menyukai hasil kerja atau pendapatnya sendiri.

Ingatlah untuk selalu menggunakan pola bahasanya dan bukan pola bahasa Anda.

Tidak ada satu orang pun yang sempurna, termasuk atasan Anda. Karena itu, Anda juga tidak harus memberikan saran atau masukan yang sempurna. Jika Anda mendasari saran, masukan, atau kritik Anda dengan pengamatan yang seksama, rasa hormat yang selayaknya kepada atasan Anda, dan motivasi untuk memajukan perusahaan, maka tidak ada sebuah saran, atau masukan, atau kritik yang tidak berharga.

Hal keempat yang perlu Anda ingat dalam memberikan pimpinan kepada atasan Anda adalah jangan berdebat. Perdebatan biasanya muncul karena seseorang ingin memaksakan pendapatnya dan menganggap dirinya lebih benar daripada orang lain. Bila demikian, tentu pemimpin Anda akan merasa terpojok dan tidak ada seorang yang merasa senang dipojokkan. Karena itu, hilangkan keinginan untuk “dianggap benar”. Kemukakan argumentasi atau alasan dibalik masukan Anda yang berasal dari pengamatan-pengamatan Anda. Kemudian berikan waktu dan kepercayaan bagi atasan Anda untuk mengambil keputusan. Dengan demikian, Anda akan dianggap sebagai kawan dan bukan lawan.

Setelah menyampaikan saran, masukan, kritik, atau pimpinan Anda selalu tutup dengan ucapan terima kasih karena telah bersedia mendengar pendapat Anda. Dengan melakukan hal ini, maka secara tidak langsung Anda menunjukkan bahwa Anda menghormati posisi mereka sebagai pemimpin. Jika Anda dipandang sebagai kawan yang dapat memajukan perusahaan atau karir pribadinya, maka cepat atau lambat Anda akan mendapatkan kepercayaannya. Ini akan membuka kesempatan-kesempatan yang lebih baik bagi Anda di kemudian hari.

BERESPONLAH DENGAN BENAR KETIKA ORANG LAIN DAN SITUASI BERTINDAK TIDAK BENAR.