Showing posts with label Christian Life. Show all posts
Showing posts with label Christian Life. Show all posts

"Nilai Luhur"? Itu Cuma Ada Di Museum

Saya baru saja menonton film "The Tale Of Despereaux" yang mengisahkan tentang seekor tikus kecil(hampir saja mengetik "seorang tikus") yang melawan budaya tikus-tikus kecil yang lain. Sementara tikus-tikus kecil yang lain menganggap rasa takut adalah dorongan terbesar untuk hidup, Despereaux Tilling (tikus kecil yang menjadi tokoh utama) menganggap dorongan terbesar dalam hidup adalah keberanian, kebenaran, dan kehormatan. Saya pribadi menyukai film yang mempunyai elemen-elemen kerajaan, kasta-kasta, petualangan, fantasi, dan perang pedang. Jadi otomatis saya sangat menyukai film ini.

Namun setelah menonton film ini, saya berpikir bahwa tidak banyak film-film jaman sekarang yang mendengung-dengungkan nilai-nilai moral seperti harapan, kehormatan, kebenaran, integritas, dan kepahlawan, sebagai nilai-nilai luhur yang harus dimiliki semua orang. Bahkan penyebutan "nilai-nilai luhur"pun terdengar asing di telinga orang jaman sekarang.

Tipe Orang "Usus Buntu"

Pernahkah Anda bertemu dengan orang-orang yang tampaknya "tidak dapat melakukan apa-apa?" Pernahkah Anda terpaksa bekerja sama dengan orang-orang yang Anda pikir hanya akan menjadi beban daripada menjadi rekan kerja yang saling menolong? Di sisi lain, pernahkah Anda mengalami situasi seperti demikian? Saya menyebut kelompok orang ini orang-orang bertipe "usus buntu".

Saya baru saja membaca sebuah artikel yang menceritakan hasil dari penelitian di Duke University Medical Center pada tahun 2007 mengenai organ yang sering kita sebut sebagai usus buntu. Artikel tersebut mengatakan bahwa " Selama ratusan tahun fungsi usus buntu masih menjadi misteri dan ahli kedokteran belum bisa mengetahui fungsi dari organ usus buntu (appendix). Bahkan beberapa ilmuwan menyebutnya sebagai 'organ sisa'."* Akan tetapi William Parker, Ph.D., asisten profesor operasi eksperimental di Duke University Medical Center, Durham, mengatakan bahwa: " Sejumlah bukti menguatkan peran usus buntu sebagai tempat di mana bakteri baik dapat hidup aman dan tidak terganggu sampai mereka dibutuhkan oleh tubuh." Bakteri-bakteri ini dibutuhkan oleh usus kita untuk membantu sistem pencernaan memproses makanan yang kita makan. Sebagai imbalannya usus menyediakan sebuah "rumah aman" dimana bakteri-bakter tersebut dapat mendapatkan makanannya.

Selama ratusan tahun manusia bertanya-tanya apa gunanya Tuhan menciptakan usus buntu? Saya merasa jika saja bukan Tuhan semesta alam yang menciptakannya maka manusia sudah akan membuangnya dari dulu. Akan tetapi karena ia diciptakan oleh Tuhan, maka kita terpaksa "memeliharanya" hingga ia menjadi benar-benar merepotkan. Begitulah biasanya orang-orang memperlakukan orang-orang bertipe "usus buntu". Mereka sering kali merasa terpaksa untuk "memeliharanya" dan kita menunggu saat-saat dimana kita bisa "membuangnya" ketika ia menjadi beban yang terlampau besar untuk mereka pikul. Di sisi lain, inilah yang kita rasakan jika kita sedang menduduki posisi orang-orang dengan tipe "usus buntu". Kita menjadi tertekan, takut berbuat salah, takut belajar dan berkembang, dan pada akhirnya menjadi semakin merendahkan diri sendiri.

Belajar dari pengalaman para peniliti di bidang kesehatan, maka seharusnya kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada sesuatupun yang diciptakan Tuhan, tidak berguna. Ia tidak pernah salah dalam menciptakan sesuatu. Selalu ada kelebihan dan fungsi khusus yang Tuhan berikan kepada tiap-tiap ciptaanNya. Begitu pula ketika ia menciptakan orang-orang bertipe "usus buntu" yang mungkin adalah saya dan Anda.

Banyak orang sering kali merasa bahwa orang-orang seperti ini tidak dapat melakukan apapun yang berguna karena mereka tidak mempunyai keelokkan yang mencolok. Mereka sering kali merasa putus asa menghadapi orang-orang seperti ini karena kita merasa mereka tidak punya fungsi yang mudah dilihat. Usus buntu jelas tidak dapat dibandingkan keelokkannya dengan mata dan rambut dan kita jelas tidak dapat melihat fungsi usus buntu senyata kita merasakan fungsi dari kekuatan otot tangan. Akan tetapi layaknya usus buntu memberikan makanan bagi bakteri yang menguntungkan tubuh kita, orang-orang dengan tipe ini sering kali bekerja di balik layar.

Saya sering sekali merasa jengkel ketika masuk ke toilet sebuah tempat umum dan mendapati toilet tersebut tidak bersih. Pengalaman-pengalaman seperti sering membuat saya bukan hanya membuat saya enggan untuk menggunakan toilet tersebut, tetapi juga enggan untuk datang ke tempat itu lagi. Di sisi lain, saya sering kali memuji (bahkan kadang mempromosikan) tempat-tempat umum yang mempunyai toilet yang sangat bersih dan nyaman. Bayangkan bagaimana kebersihan toilet dapat mempengaruhi sebuah kerja sama bisnis yang besar.

Banyak orang sering kali menganggap orang-orang seperti petugas kebersihan, pekerja kasar, satpam, supir, pembantu rumah tangga adalah orang-orang dnegan tipe "usus buntu". Di sisi lain, jika Anda dan saya termasuk dalam kelompok ini, mungkin kita akan mengalami rasa tidak berharga yang sama. Mari kita berkaca dari usus buntu yang Tuhan ciptakan dalam diri setiap manusia. Tidak ada seorang manusiapun yang tidak mempunyai kelebihan. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak dapat memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Tuhan telah menciptakan Anda dan saya untuk mencerminkan kejeniusan sang pencipta kita. Tuhan tidak pernah menciptakan sebuah rongsokan. Tuhan selalu menciptakan karya terbaikNya dan Anda dan saya adalah karya terbaikNya.

Jika Anda merasa termasuk dalam kategori orang-orang "usus buntu" ini, rubahlah pandangan Anda terhadap diri Anda sendiri. Temukan kemampuan yang Tuhan sudah berikan di dalam diri Anda. Kembangkan kemampuan itu. Jangan pernah berhenti belajar untuk mengembangkan dan menggunakan kemampuan itu untuk memberikan manfaat bagi Anda dan orang-orang di sekitar Anda. Mungkin kemampuan itu masih dalam bentuk benih. Tugas Anda adalah menemukan dan menyiraminya hingga menjadi pohon yang kokoh. Ingat bahwa kelebihan Anda tidak harus mengungguli banyak orang. Layaknya usus buntu yang kurang kita namun memberikan manfaat bagi kita, begitupun kelebihan Anda. Hal yang terpenting adalah Anda dapat memberikan manfaat bagi orang-orang dan lingkungan di sekitar Anda.

Jika Anda tidak merasa sebagai orang-orang "usus buntu" tetapi mengenal seseorang yang merasa dirinya termasuk dalam kelompok ini. Tolonglah ia merubah pandangannya mengenai dirinya sendiri dengan mulai merubah cara Anda memandangnya. Temukan potensi yang ada di dalam dirinya. Berikan pujian yang jujur mengenai hal baik apapun yang Anda temukan di dalam dirinya. Motivasi dan bantulah ia untuk mengembangkan dirinya. Pada akhirnya hadiah terbesar bagi Anda adalah melihatnya tumbuh menjadi seseorang yang lebih baik.

Tuhan tidak pernah salah dalam menciptakan Anda, saya, dan orang-orang lain. Tiap hal dalam kehidupan kita direncanakanNya untuk menunjukkan kejeniusanNya dalam merajut kehidupan manusia ciptaanNya. Temukan fungsi dan kelebihan yang ada di dalam diri kita dan orang lain. Dengan demikian kita telah memuliakan Tuhan pencipta kita.

Kisah Kejadian 1 dan Hidup Yang Berkemenangan

Suatu kali ada seorang gadis yang tinggal di sebuah di daerah pegunungan, duduk di teras depan rumahnya. “Din! Cepat masuk!” Teriak ibunya. “Berapa kali sudah mama bilang, hah? Kamu nggak boleh nongkrong sore-sore di luar rumah. Nggak baik!”
“Kenapa?” Tanya Dinny.
“Pokoknya nggak baik! Nanti kamu dikerjai sama setan!”
Mungkin kisah ini sedikit lucu. Tetapi kisah ini dialami oleh banyak gadis suku jawa selama beberapa puluh tahun karena wawasan dunia mereka. Setiap orang mempunyai wawasan dunianya sendiri-sendiri. Wawasan dunia itu adalah kisah yang kita percayai menggambarkan apa sebenarnya yang sedang terjadi di dunia ini. Ada orang-orang yang percaya bahwa perjalanan dunia ini merupakan sebuah kisah peperangan, antara dewa-dewa yang baik dengan dewa-dewa yang jahat atau antara Tuhan dengan setan. Ada pula orang-orang yang percaya bahwa perjalanan dunia ini, tokoh utamanya bukan para dewa, melainkan manusia; dan perjalanan manusia merupakan sebuah kisah mengenai dilahirkan => bertumbuh makin besar => menemukan jati diri-menjadi orang bijaksana lalu memberikan nasihat pada generasi yang lebih mudah => lalu mati. Ada lagi yang mempercayai bahwa perjalanan hidup manusia itu merupakan kisah bagaimana manusia itu harus menyatu dan mengharmonisasikan dirinya dengan alam, karena Tuhan ada di dalam alam; dan di dalam diri kita. Jadi kita harus hidup harmonis dengan segala sesuatu agar “tuhan” juga bisa harmonis. Setiap orang mempunyai wawasan dunianya sendiri-sendiri, artinya setiap orang mungkin mempunyai versi kisahnya sendiri-sendiri mengenai kisah apa yang paling cocok menggambarkan kehidupan ini.
Wawasan dunia inilah yang menentukan apa yang kita nilai sebagai baik atau buruk. Wawasan dunia inilah yang menentukan bagaimana cara kita hidup. Wawasan dunia inilah yang menentukan kebijaksanaan apa yang ingin kita ajarkan pada generasi selanjutnya. Inilah mengapa Kitab Kejadian secara ajaib Tuhan taruh sebagai kitab pertama di Alkitab kita. Tuhan menginginkan kita, anak-anakNya, mempercayai wawasan dunia versi Tuhan Yesus; versi “dewa YaHWeH”. Bukan versi dewa-dewa yang lain dan bukan versi ilmu-ilmu yang lain.

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya.” (ITB)

Alkitab terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menerjemahkan ayat ini dengan lebih jelas. Pada mulanya, waktu Allah mulai menciptakan alam semesta, bumi belum berbentuk, dan masih kacau-balau. Samudra yang bergelora, yang menutupi segala sesuatu, diliputi oleh gelap gulita.” Perhatikan bahwa Alkitab mengajarkan bahwa awalnya yang ada hanyalah kekacauan. Segala sesuatu menakutkan. Samudra atau laut merupakan tempat yang paling ditakuti oleh kebanyakan orang-orang jaman dulu. Kenapa?
·         Karena ketika di laut, manusia tidak dapat bebas bergerak. Rasanya seperti ada kekuatan besar yang menghambat kita untuk berlari jika ada bahaya mendekat (orang modern tahu bahwa ini disebabkan karena tekanan air menghambat gerak badan kita).
·         Karena di dalam laut kita tidak dapat bernafas; dan kalau menyelam semakin dalam maka seperti ada tekanan yang menyesakkan dada (orang modern tahu bahwa ini disebabkan karena tekanan air yang menekan dada kita).
·         Karena semakin dalam laut itu, semakin gelap tempat itu; dan berada di situasi yang sangat gelap gulita dan terasa sangat besaaaar itu adalah situasi yang sangat mengerikan (orang modern tahu bahwa ini adalah karena sinar matahari tidak dapat menembus laut di daerah dalam).
·         Karena di dalam laut, banyak binatang-binatang “aneh” yang bisa bergerak dengan sangat cepat, sedangkan kita tidak dapat bergerak dengan leluasa. Dan menjadi makhluk yang lebih “lemah” itu adalah perasaan yang mengerikan.

Kenyataannya memang bahwa laut, terutama di tempat yang dalam dan gelap memang merupakan tempat yang bisa memberikan rasa ngeri. Coba lihat beberapa gambar ini:

Ini adalah beberapa foto binatang (ikan) yang hidup di laut dalam yang gelap. Mengerikan bukan? Bukan hanya itu, bayangkan bagaimana putus asanya orang jaman itu bila bertemu dengan hiu; dan bayangkan betapa ketakutannya orang jaman itu bila bertemu dengan ikan paus. Di jaman ini bila ada sesuatu yang mengerikan di laut, kita dapat dengan mudah melarikan diri menggunakan baling-baling motor. Teptai bila orang-orang jaman dulu bertemu dengan hiu, mereka hanya bisa mendayung sekuat tenaga. Jadi ketika Firman Tuhan mengatakan bahwa pada mulanya hanya ada “kekacauan, samudra yang bergelora menutupi segala sesuatu dengan kegelapan”, maka itu adalah bentuk suasana yang sangat mengerikan.
Itulah yang terjadi dengan dunia ini tanpa Tuhan. Jika dunia ini berjalan tanpa campur tangan Tuhan yang maha baik, maha bijaksana, maha tahu, dan maha kuasa, maka di dunia ini hanya akan kekacauan, kengerian yang merajalela dimana-mana, dan kegelapan yang menutupi semua mata dari cahaya. Tapi Alkitab tidak berhenti sampai di sana. Alkitab mengatakan:

Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” (ITB)

Alkitab terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menterjemahkan ayat ini dengan: “Tetapi kuasa Allah bergerak di atas permukaan air.” Allah bukannya tidak ada di suasana yang kacau balau itu. Allah tetap ada di sana. Tuhan tidak tenggelam di dalam kuasa kegelapan itu, tetapi Ia berada DI ATAS kegelapan itu. Ia berkuasa untuk mengendalikan keadaan yang kacau balau itu. Itu sebabnya pada ayat ke-3 sampai ke-31, Alkitab mulai menceritakan bagaimana Tuhan menggunakan kuasaNya untuk mengendalikan keadaan yang kacau balau itu.
Alkitab tidak menceritakan bahwa Tuhan bersusah payah untuk mengendalikan kekacauan itu. Kekuatan Tuhan jauh melampaui tokoh-tokoh super kuat yang pernah ada di sepanjang sejarah manusia. Tokoh-tokoh seperti Sangkuriang, Gatot Kaca, Rambo, atau bahkan Superman, selalu mempunyai kelemahan dan kesulitan dalam menghadapi lawan-lawannya. Tapi Tuhan Yesus melakukan “aksinya” hanya dengan berbicara (berfirman). Alkitab mengajarkan bahwa: “Berfirmanlah (berkatalah) Tuhan: ‘jadilah terang’, maka terang itu jadi.” Kegelapan itu hilang dalam sekejab. Begitu berkuasanya Tuhan bahkan Ia tidak perlu menggerakkan jarinya untuk mengalahkan kegelapan yang mengerikan itu. Tuhan berfirman: “Hendaklah air yang ada di bawah langit mengalir ke satu tempat, sehingga tanah akan kelihatan.” Lalu perkataan Tuhan itu terjadi. Tuhan tidak perlu bersusah-payah membangun bendungan yang besar. Tuhan hanya perlu mengucapkan perintahNya dan samudra yang mengerikan itu menurut.
Apa yang menjadi kegelapan Anda saat ini? Samudra apa yang menutupi hidup Anda dengan kekawatiran? Apakah itu mengenai kesulitan dalam hal finansial? Apakah masalah dalam keharmonisan keluarga Anda, masa depan pendidikan anak Anda, relasi Anda dengan orang lain, kesehatan Anda, atau kekurangan atau kelemahan diri Anda sendiri menggelisah diri Anda? Alkitab memberi tahu kita bahwa Tuhan Yesus memiliki kuasa yang begitu besar untuk dapat menolong kita. Dengan kuasaNya, dalam sekejab Ia mententramkan badai samudra yang mengerikan itu. Jika Ia telah melakukannya dahulu kala, maka Ia dapat melakukan hal itu di dalam hidup Anda sekarang.
Dunia ini memang sedang dilanda kekacauan sejak manusia jatuh dalam dosa. Tapi kuasa Tuhan tidak pernah berkurang; dan sekali lagi Ia menawarkan agar kita dapat memiliki hidup yang dijaga oleh kuasaNya yang luar biasa itu. Tuhan hanya menginginkan agar kita menjadi umatNya, beribadah kepadaNya, menjadikan Tuhan Yesus sebagai hal terpenting di dalam hidup kita. Maka Ia akan menjadikan hidup kita teratur, terjamin, dan kita dapat semakin dekat dan menyembah Dia karena apa yang dia sudah buat bagi kita.
Selamat menjalani hidup yang teratur dan berpengharapan di dalam Tuhan Yesus! J

Kesesakan Yang Terus Menekan - Kasih Karunia Yang Tak Pernah Berhenti

Ada perbedaan yang sangat besar, saya rasakan ketika anak-anak dan dewasa. Walaupun pada masa anak-anak saya juga mengeluh ketika dipaksa harus belajar, sekolah, mandi, tidur, makan, dan sebagainya. Namun ketika dewasa keluhan saya berganti dan mungkin bertambah. Saya merasa tertekan dengan desakan waktu. Saya merasa terhimpit dengan kebutuhan finansial saya dan keluarga saya. Saya merasa lemas karena merindukan saat-saat dapat belajar, mandi, tidur, makan, berdoa, bermain games, mendengarkan dan bermain musik dengan total relax.

Benar apa yang dikatakan Alkitab di kitab kejadian. Bekerja menjadi sebuah aktivitas yang melelahkan sejak Adam dan Hawa dikutuk Tuhan. Bekerja tidak lagi dapat dibatasi hanya untuk menunjang kehidupan kita. Kutukan itu telah diperparah oleh setan, sehingga sekarang banyak orang hidup untuk bekerja. Sebagian besar orang bekerja untuk menghasilkan tiang penyangga finansial kehidupannya. Beberapa orang bekerja untuk memuaskan aktualisasi dirinya dalam hal berkarya, menikmati seni, beramal, atau travelling. Kebanyakan dari kita tidak dapat berhenti bekerja karena tekanan dari dalam diri ataupun dari lingkungan sekitar mengharuskan kita untuk terus bekerja, tanpa henti.

Alkitab sendiri sepertinya mendukung ide ini. Rasul Paulus, yang dipandang sebagai rasul terbesar di Perjanjian Baru, digambarkan sebagai orang yang tidak pernah berhenti "bekerja". Dia mengatakan: "jika aku mati, itu adalah hal yang sangat kuimpi-impikan karena Aku bisa bertemu dengan Tuhanku. Tapi jika aku hidup itu berarti bekerja (terus-menerus) memberi buah untuk Tuhan di dunia ini." Banyak orang merasa bahwa terlihat sebagai orang yang kekurangan waktu untuk "merawat" dirinya demi "bekerja memberi buah untuk Tuhan", merupakan goal yang harus dicapai oleh tiap anak Tuhan. Banyak orang mengidentifikasikan status spiritual person sebagai orang yang memberikan seluruh hidupnya untuk merawat orang lain, demi Tuhan, dan sedikit sekali merawat dirinya sendiri.

Saya sendiri merasakan sebuah dilema yang hebat mengenai hal ini semasa saya belajar di seminari. Namun betapa terkejutnya saya ketika Alkitab memberi tahu bahwa hal ini tidak sepenuhnya benar karena banyak ayat menunjukkan bahwa Tuhan ingin kita merawat diri kita, sebagai bagian dari pelayanan kita bagiNya. Tuhan mengajarkan lewat Daud bahwa juga menginginkan agar kita dapat tidur dengan cukup dan lelap. Daud mengatakan hal ini ketika sedang diburu oleh anaknya sendiri, "Aku berbaring dan tidur dengan tentram, dan bangun lagi, sebab TUHAN menopang aku." (Mazmur 3:5) Menghadapi tentara kerajaannya sendiri yang memburu untuk membunuhnya Daud mengatakan: "I lay down and slept, yet I woke up in safety, for the LORD was watching over me." Berapa sering kita tidak dapat tidur karena memikirkan "pekerjaan" kita? Mungkin saja, kita tidak lagi bekerja untuk Tuhan, melainkan bekerja demi mengaktualisasikan diri kita.

Kaum Rohaniawan, termasuk saya, biasanya mempunyai argumentasi bahwa mereka berlelah-lelah hingga tidak lagi terlalu menjaga dan merawat diri mereka demi pelayanan yang telah dipercayakan pada mereka. Namun demikian Tuhan pernah mengajar kita lewat rasul Paulus. Ia mengatakan bahwa Kita memang harus bekerja bagi Tuhan. Namun hasil di tangan Tuhan. "Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan." (1 Korintus 3:6-7). Tuhan menginginkan kita hanya bekerja sebagai salah-satu dari rekan kerjaNya, bukan satu-satunya. Tuhan menginginkan kita bekerja sama dengan Dia, bukan hanya bekerja untuk Dia. Tiap-tiap kita memiliki bagian kita masing-masing (1 Korintus 3:10) dan itu berlaku pula dalam kerja sama antara kita dengan Tuhan (1 Korintus 3:6)

Banyak orang lainnya juga merasakan desakan yang sama dalam dirinya, baik bekerja untuk meletakkan fondasi finansial bagi keluarganya, maupun bekerja untuk berkarya, menolong orang-orang yang tidak mampu secara finansial dan pendidikan, menghasilkan dan menikmati seni, dan sebagainya. Bagi kita yang merasakan desakan ini, sangat tidak mudah untuk berhenti dan merawat diri kita. Seakan-akan Tuhan menghendaki kita terus-menerus menguras hidup kita bagi passion atau desakan yang Tuhan telah letakkan di hati kita. Akan tetapi sering kali Tuhan memberikan warning kepada kita, jika tubuh dan mental kita mulai kelelahan dan membutuhkan perhatian. Rasa penat dan kelelahan merupakan tanda yang telah Tuhan rancang agar kita mulai merawat diri kita. Alkitab mengatakan bahwa: "Tubuh (jasmani) kita adalah rumah Allah." Itu berarti merokok, pola makan yang tidak sehat, pola istirahat yang tidak sehat, pola kerja yang tidak sehat, pola refreshing yang tidak sehat merupakan tindakan yang sengaja menghancurkan rumah Allah.

Akan tetapi kita semua mengetahui bahwa hidup di jaman ini sangatlah tidak mudah. Banyak orang masih terhimpit dengan tuntutan finansial. Banyak orang masih dibebani lagi dengan tekanan relasi dalam keluarga. Banyak orang masih dibebani dengan desakan untuk melayani di gereja. Dengan kondisi seperti ini sangat wajar jika kita menempatkan "perawatan diri" pada prioritas terakhir. Di sinilah Tuhan memberikan jalan keluar. Tuhan telah melihat hal ini sejak dahulu kala. Bahkan Ia telah menawarkan jalan keluar sejak Ia datang ke dunia ini. Ia mengatakan: "Datanglah kepada-Ku kamu semua yang lelah, dan merasakan beratnya beban; Aku akan menyegarkan kamu (atau membuatmu dapat beristirahat)."

Menjaga tubuh jasmani ini sama pentingnya dengan menjaga kesehatan spiritual kita. Dalam arti tertentu hal ini merupakan salah satu bentuk pelayanan wajib yang Tuhan ingin setiap anak-anakNya lakukan.  Terlebih bagi kita yang hidup di jaman ini.

Dunia telah membuat orang-orang jaman ini melihat apa yang tampak (visible) sebagai representasi dari apa yang tidak tampak. Kesehatan, kesejahteraan, dan kemapanan telah menjadi tolak ukur jaman ini mengenai apa yang dianggap baik dan tidak baik. Sekarang ini jauh lebih mudah mempromosikan produk suplemen kesehatan daripada keselamatan. Time management menjadi sebuah jalan keluar yang lebih dicari-cari orang jaman ini daripada Spiritual Development. Teknik-teknik membangun relasi yang sehat lebih banyak dinanti-nanti untuk didengar orang daripada keintiman dengan Tuhan.

Konteks atau keadaan jaman seperti ini mengharuskan kita, sebagai anak-anak Tuhan juga dapat "menyebarkan injil dan kabar baik" melalui kaca mata mereka. Kita sebagai individu, maupun sebagai organisasi, tetap harus dapat menjadi "garam dan terang" dalam kaca mata jaman ini. Orang-orang akan lebih tertarik untuk belajar mengenai ajaran Kristus jika mereka dapat melihat "hasilnya" di dalam kesehatan, kesejahteraan, dan kemapanan hidup orang-orang yang menyebut dirinya "anak-anak Tuhan." Sebagian orang mempunyai kesempatan untuk belajar mengenai pola hidup sehat, life management, teknik-teknik membangun relasi dan sebagainya. Akan tetapi tidak semua anak-anak Tuhan mempunyai kesempatan untuk memperlajari ilmu-ilmu ini. Sebagian anak-anak Tuhan mendapatkan kesempatan untuk mempelajari hal-hal ini melalui program-program gereja. Tapi sebagian anak-anak Tuhan tidak mendapatkan kesempatan sebaik itu.

Dalam kondisi seperti inilah janji-janji Tuhan selalu merupakan janji-janji termanis yang pernah kita dengar dan yang akan kita rasakan. Tuhan mengatakan: "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya." (Matius 7:7-11).

Kita tidak lagi perlu kawatir bagaimana Tuhan akan menggenapi janjiNya, karena Tuhan juga mengatakan: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi." (Matius 28:18). Kita juga tidak perlu lagi kawatir apakah Tuhan mempunyai standar yang terlalu rendah untuk menjaga kehidupan kita, karena Tuhan juga mengatakan: "Tidak pernah orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; (bahkan) anak cucunya menjadi berkat. " (Mazmur 37:25-26). Kita juga tidak perlu kawatir bahwa penyertaan Tuhan kurang bagi kita untuk menghadapi tantangan hidup ini karena Rasul Paulus telah membuktikannya dan mengatakan: "For I can do everything through Christ, who gives me strength."  (Filipi 4:13).

Apakah yang menjadi desakan dalam diri kita untuk bekerja? Apakah desakan itu adalah untuk menetapkan sebuah kestabilan finansial bagi keluarga kita? Apakah desakan itu adalah untuk membantu orang-orang yang membutuhkan? Apakah desakan itu adalah untuk melayani di gereja lokal kita? Apakah desakan itu adalah untuk menghasilkan karya-karya seni bagi Tuhan? Apakah desakan itu adalah untuk menjadi pionir atau pembuka jalan di daerah-daerah yang sulit bagi pekerjaan Tuhan? Sebagai anak-anak Tuhan, desakan itu tidak akan pernah hilang. Karena kita hidup untuk bekerja sama dengan Allah. Namun Tuhan juga menginginkan agar kita menjaga diri kita sendiri. Karena itu mintalah selalu karunia Tuhan untuk memampukan kita beristirahat. Memulihkan segala kejenuhan dan kelelahan yang kita rasakan. Tidak akan ada peristirahatan yang sempurna sebelum kita berada di sorga (Wahyu 21:4). Akan tetapi Tuhan akan selalu memberikan KaruniaNya yang Tidak pernah berhenti untuk menyegarkan jasmani dan spiritual kita, jika kita memintaNya.

Selamat menikmati Kesesakan Yang Terus Menekan dan Kasih Karunia Allah Yang Tak Pernah Berhenti di dalam hidup kita sehari-hari.